dunia hanya sedang berputar*

* meminjam istilah nya mengenai dunia hanya sedang berputar

yup. dunia hanya sedang berputar. dan kali ini saya sedang tidak menikmati perputaran ini. bukan, bukan tidak bisa merasakan. hanya tidak bisa menikmati.

karena nyatanya perputaran dunia saat ini sedang berlangsung sedikit membawa rasa yang berujung galau di hati. resah.

(iyah, memang dibuat sedikit lebay)

bukan karena masalah pertemanan itu
(untuk itu saya ngucapin makasih banget loh sama temen – temen yang sudah urun komen. belum selesai sih masalahnya, tapi membuat saya sedikit tenang)

dan juga bukan hanya karena belum bisa menemukan definisi pulang.

kedua hal itu juga jadi pemikiran saya.

namun, ada hal lain yang membuat saya sedang tidak menikmati perputaran ini.

Astaghfirullah, kok kesan nya saya tidak bersyukur banget yah?

tapi mungkin perasaan saya seperi percakapan antara Miranda Hobbes dan Carrie Bradshaw (yup, Sex and the city. Film. yang pertama):

Miranda Hobbes: Is it just me or is Valentine’s Day on steroids this year?

Carrie Bradshaw: No it’s the same, we just played for the other team.

***

yup, it’s same. we (in this case : me!!) just played for the other team

cirebon (sekali lagi)

hai. saya sudah tiba di cirebon.

perjalanan dimulai dengan sedikit mengacau sih. saya ketiduran di sofa ruang tengah rumah. mamah saya harus berteriak untuk membangunkan saya. lalu itu semua membuat saya berlari – lari untuk tiba di loket di stasiun gambir.

sesuai arahan mamah, jam 17.00 itu ada kereta cirebon ekspress. dengan bekal duit di tangan, saya PD berlari ke loket. ternyata tidak ada cirebon ekspress jam 17.00. melainkan ada nya argo jati.

horeeh.. naik kereta bagus. dengan duit sedikit terancam tidak sampai di Jogja raya. Pikirkan saja nanti yah, yang penting menikmati perjalanan.

Lalu perjalanan pulang (iyah belum nemu makna kata itu sampai sekarang, jadi katanya saya ganti dulu yah?) menuju Jogja raya kali ini dimulai.

saya senang melakukan perjalanan, apalagi sendirian. gak. saya bukan backpaker atau semacamnya (mungkin).

saya menyukai ide : datang ke suatu kota dan merasa terasing dan baru untuk beberapa saat. menikmati rasa. walau beberapa kota yang sering saya singgahi pernah menjadi bagian dari hidup saya.

tapi tetap saja. rasa asing itu tetap hadir.

dan anehnya, saya menyukainya.

hanya untuk beberapa saat. lalu saya ingin segera pulang.

*apa kata ganti untuk kata itu?*

***

Lanjutan dari sini

***

anyone?

bukan teman yang baik

menjadi teman itu butuh seni. dan saya tidak memiliki seni untuk menjadi teman yang baik.

kenapa?

entah.

nyatanya saya selalu salah dalam persoalan perteman- an ini.

habis dikritik, diperbaiki, coba mengerti. ternyata langkah nya pun masih salah.
maksud baik gak selamanya di tangkap dengan baik.

yaaa… yaa… mungkin saya yang masih terlalu dangkal dalam me makna-i hidup,
mungkin saya yang terlalu sensitif menerima itu semua,
mungkin saya yang terlalu manja juga, tidak pernah mengalami masalah yang besar.

    bagi saya masalah adalah saat pacar tidak bisa di hubungi,
    bagi saya masalah adalah saat harus mengerjakan tugas dengan waktu yang di buru
    bagi saya masalah adalah saat saya mau beli buku, duit bulanan saya gak cukup
    bagi saya masalah adalah saat saya sakit, saya jauh dari mamah
    bagi saya masalah adalah saat seorang kawan menjauhi saya
    bagi saya masalah adalah saat orangtua saya sakit, dan saya jauh dari mereka
    bagi saya masalah adalah saat harus memilih topik penelitian, dan saya sedang buntu
    bagi saya masalah adalah…..

yang jelas berbeda dengan kamu,
mungkin sedikit dangkal.

si penyusup

malam minggu kemaren,

saya di depan laptop semaleman, dari saya buka mata sampe ini mata terkantuk – kantuk. tulisan ini harusnya sudah dari dua malam lalu. tapi ada beberapa kendala yang terjadi, sehingga baru terpubliss sekarang (tentu saja dengan sedikit edit -an).

malam minggu kemaren saya bertemu dengan rekan – rekan saya jaman SMA, jaman menghabiskan masa muda (aih… pilihan kata saya….) di kota ngapak tercinta. Kami ngobrol di confrence via YM. Kawan saya yang satu lagi di kalimantan, yang satu di Jogja, dan saya di sini. hehehehe.

Lagi ngobrol – ngobrol seru… pembicaraan menarik kami ke masa SMA. Lalu ingatan saya terseret (meminjam bahasa seorang kawan) ke masa itu. masa putih abu – abu. Masa muda, beda dan berbahaya (hahahahaha). Masa AADC booming, lengkap dengan kaus kaki panjang dan tas – tas ransel plastik. Masa itu bukan jaman millenium kawan. Millenium sudah lewat dua tahun. Tapi handphone dan kamera digital belum di tangan. Internet masih barang langka. Saya harus ke warnet kalau mau online. Chattingnya belum mengenal YM atau FB, masih pake mirc. hahahaha..

di masa itu lah saya mengenal dalri andita, temen sekelas sewaktu kelas dua SMA N 1 Purwokerto. Dulu kami nge geng barengan dua orang kawan lain. Namanya Titin dan Fajar Wulan (nge geng nya gak beneran loh.. itu cuman karena tempat duduk kami sering depan – belakang gitu, jadi kami sering main bareng).

yang membuat saya teringat sama persahabatan kami itu di malam minggu kemaren adalah perbincangan saya sama dita di conference itu: karena secara tiba – tiba dita mengungkit keikutsertaan saya di Paduan Suara sekolah, dengan alasan yang enggak banget.

serius (serius enggak banget – nya…)

sampe sekarang saya suka geleng – geleng kepala kalau inget alesan itu.

alesan nya gak lain gak bukan adalah : kakak kelas. Kakak kelas yang di wisuda.

jadi ada tradisi wisuda yang seperti pelepasan di SMA kami. yang boleh dateng adalah siswa – siswi kelas 3 dan orangtua, serta adik – adik kelas yang bertugas.

Saya dan dita dan waktu itu kelas dua. Dita tergabung dalam paduan suara, dan paduan suara bertugas di hari wisuda. Saya pengen banget hadir di acara wisuda itu (iyah… iyah.. alasan saya mau hadir itu gara – gara saya ngegebet kakak kelas tiga yang mau lulus. dan prospek melihat dia mengenakan jas tuh kayak nya kesempatan yang tidak boleh terlewatkan).

nyari akal.

saya dan titin dan fajar. Nyari akal buat hadir di acara wisuda. Sengan satu alasan yang sama : pengen liat kakak kelas gebetan kami mengenakan jas dan kalau ada kesempatan bisa foto bareng sama mereka (berharap).

petugas adik kelas yang hadir terdiri dari : Paduan suara, pemain gamelan, penari, penerima tamu, pembawa acara.

kami saya maksudnya gak bisa maen gamelan (jelas), gak bisa nari (sangat jelas), tidak cukup goodlooking untuk jadi penerima tamu. Dan di angkatan kami pembawa acara itu sudah ada satu orang yang tak tergantikan. Pilihan nya hanya paduan suara.

lalu… *tring *

teringatlah kami sama kawan kami, dita. Dengan ‘setia kawan’ nya dita mengajak kami menyusup ikut paduan suara. Jadilah satu hari menjelang hari wisuda, berbekal surat ijin dari ruang piket (masih ada gak sih ruang piket sekarang di sekolahan?), kami berempat yang satu kelas itu dapet ijin keluar untuk latihan nyanyi.

kami menyusup.

sebelah kanan deret nomor dua dari depan : dita - titin - fajar - saya

demi melihat gebetan memakai jas. dan tahukan kawan – kawan semua.. pemandang gebetan – mengenakan – jas – itu – berlangsung berapa menit?

Dua kali satu menit.

Satu menit pertama saat mereka memasuki tempat upacara wisuda dan harus melewati kelompok paduan suara.

Satu menit kedua saat mereka dipanggil satu per satu dan menerima ijazah dari kepala sekolah.

Sisanya… gebetan kami duduk nun jauh dari tempat kami bertugas menyanyikan lagu.

πŸ˜€

itu adalah peristiwa yang gak mungkin kami berempat lupakan. Gak.. bukan karena sang gebetan nya. Tapi niat kami buat belajar nyanyi (iyah, suara saya fals….), bela – bela in dateng ke sekolah saat kawan seangkatan kami diliburkan, menggunakan seragam dan bernyanyi. dan, sehari setelah itu anggota paduan suara kembali bertugas untuk upacara.

saya dan tiga kawan penyusup lainnya masih ikut bertugas untuk bernyanyi saat upacara.

itulah yang terkenang. Kebersamaan kami yang sangat indah untuk ditertawakan dan dikenang. Ke ‘bodoh’ an kami yang bela – bela in untuk menyusup ke anggota paduan suara. hanya demi dua menit melihat sang gebetan mengenakan jas.

ah masa muda
*sok tua deeeh….

kami minus fajar dan plus ida,

PS : buat Farid yang tadi ikut nimbrung, makasih loh udah ngingetin satu jam bersama di rental musik. terimakasih juga udah ngingetin kalau suara saya lumayan. lumayan datipada enggak ada vokalisnya
πŸ˜€

selamat hari anak!!

23 juli 2010…..

selamat hari anak untuk anak – anak Indonesia. semoga semakin diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik,
dan semoga bisa menjadi generasi yang bisa memajukan bangsa ini.

berhubung status saya masih jadi anak (-nya mamah saya), jadi hari ini saya mau cerita soal kegombalan mamah saya.

hari ini saya ngasih les privat sama mamah saya soal komputer. cuman berlangsung satu jam sih. tapi seru. secara mamah saya terakhir berurusan dengan teknologi adalah handphone dan mesin ATM. heboh lah saya mengajarkan beliau bagaimana cara menyalakan komputer, cara buka word, kemudian cara membuka jendela untuk tersambung dengan dunia maya. Beliau punya ccount di jejaring sosial memang, itu dibuka kalau ada anak – anak nya ajah, buat berhubungan dengan kawan SMP nya yang di amrik katanya.

Setelah selesai, saya sama mamah duduk menatap layar komputer, sambil dengerin lagu yang keluar dari speaker di ssisi kanan LCD. lagunya Agnes Monica, judulnya matahariku. secara tiba – tiba mamah saya bilang:

” iyah, kamu kan matahari mamah”

aih…..

mamah dan saya,

rasanya detik itu seperti berhenti.

saya. terpukau. sama. kalimat. mamah.

saya tidak perduli lagi sama lirik lagu agnes monica yang itu kaya gimana. Saya langsung membuat lagu itu jadi lagu favorit saya.

buat saya, hari ini sangat berkesan sekali.

selamat hari anak, semoga anak – anak Indonesia di luar sana masih bisa merasakan kebahagian yang saya rasakan malam ini

πŸ˜€

genggaman tangan yang melemah,

genggaman tangan ini kurasa melemah,
entah apa dan siapa yang salah

mungkin hati yang lemah,
terlena dengan mudah

dulu, rasa saja cukup sudah

namun kini rasa pun tak kan pernah cukup untuk menutup resah

mengapa?

entah.

tak kan kuijinkan satu butir pasir pun merusak rasa yang ramah,

percaya, percayalah…
aku tetap simpankan kuatku untukmu.

sedikit terlupakan…

saya punya keponakan.
keponakan beneran.

bukan anak dari sepupu, atau anaknya temen yang saya panggil keponakan. tapi ini keponakan langsung anak dari kakak saya yang ganteng dan istrinya yang cantik itu.

please welcome,
muhamad zaidan arrasyid :

10 menit yang pertama

kami memanggilnya zidan. dia lah sekarang selebrity nya keluarga kami.

semoga menjadi anak yang shaleh yah dek’, hormat kepada wanita, berguna bagi agama, nusa dan bangsa, satu lagi : semoga jadi presiden πŸ˜€

we love u, dan!
πŸ˜€

pergi dengan genta

kinan, genta dan bima part IV

***

Ki dimana? lunch bareng yuk? udah lama gak lunch bareng Ki

Kinan membaca sms itu dengan tidak bersemangat. Sms itu datang dari Genta. Padahal yang dia harapkan sms itu datang dari Bima,

Pfiuh…..

tidak boleh. Kinan tidak boleh beranjak mengacuhkan Genta. Karena Genta adalah pria – nya, yang selama dua tahun ini bersamanya. Berbagi mimpi bersama, berbagi cerita, berbagi impian, berbagi tawa, berbagi rahasia, dan berbagi segalanya. Apakah karena sepotong kisah maya itu Genta mampu tergantikan oleh Bima?

Rasa ini berbeda. Untuk Genta maupun untuk Bima. Padahal Kinan meyakini bahwa hati itu hanya satu. sayang itu hanya satu. Tentu saja terlepas dari cinta untuk Tuhan, ayah dan Ibu. Itu klise. Atau malah aku yang memaknai cinta secara sempit?

Kinan meyakini bahwa cinta romeo hanya untuk Juliet. Cinta Ayah hanya untuk Ibu. Cinta donald duck hanya untuk deasy duck. Cinta carl hanya untuk Ellie. Cinta Rangga hanya untuk Cinta. Cinta Widyawati hanya untuk Sophan Sophian.

Cinta yang seperti itu tidak mungkin terbagi dua. Kinan yakin itu.

Cinta Kinan lalu untuk siapa?

***

Akan berbeda jadinya jika Bima adalah nyata, dan hadir dalam hari – hari Kinan. Yah…. Bima hadir dalam hari – hari Kinan. Tapi Bima tidak pernah hadir dalam bentuk fisik dan raga. Kinan hadir lewat sapaan di YM, ataupun lewat pesan singkat yang dikirim pria itu lewat handphone.

Berbeda dengan Genta. Genta hadir. Suara nya, genggaman tangannya, perhatiannya, secara fisik nyata.

Bima memahami kesukaan Kinan akan karakter Ellie di film animasi UP. Genta malah mentertawakan imajinasi Kinan tentang Paradise Fall.

Bima memahami bahwa Kinan lebih memilih milkshake strawberry dibandingkan capucinno. Genta berulang kali meminta Kinan untuk berbagi secangkir capucinno dengan nya.

a cup of capucinno

Bima membaca semua puisi Kinan. Genta hanya membaca satu bait, menutup buku puisinya lalu berkata;
“bagus. kita cari makan yuk, aku laper nih. Gado – gado di situ masih ada gak yah jam segini?”

Bima ikut mentertawakan Kinan, sewaktu Kinan bercerita mengenai dirinya yang harus berlari…..

sudah cukup. perbandingan ini tidak seharusnya dilakukan. setiap orang unik. setiap orang berbeda.

Kinan mengetik sms ;
Ki di rumah, Ta. Ta mau ke sini?

memasuki zona yang berbeda

kinan, genta dan bima (part III)

***

Kinan tersenyum menatap potongan – potongan sms yang pernah menjadi percakapan antara dirinya dan Bima. Seolah nyata. Karena memang sms itu semua nyata. Sengaja ia pisahkan dalam satu folder. Begitu juga dengan chattingan mereka berdua, ada dalam satu folder di laptop miliknya.

apa yang tidak nyata dari semua ini? huruf – huruf ter rangkai membentuk susunan kata yang menyatu dalam gugusan kalimat yang…. tidak indah, namun… bermakna

Kinan berujar dalam hati, melakukan percakapan – percakapan ringan dengan hati kecilnya, mencoba menetapkan hati, ini nyata atau ini maya.

Jika ini maya, lalu kenapa rasa ini begitu nyata? Rindu ini membuatku bingung. Rindu ingin memandang wajahnya, padahal wajahnya seperti apa saja aku sudah lupa. rindu pada genggaman hangat tangannya, padahal menyentuh nya saja belum pernah. rindu pada gelak tawanya, padahal suaranya saja sudah lupa aku bagaimana nadanya

lalu ini apa?

ini kah nyata?

apa yang nyata itu sebenarnya?

kondangan yang kondanG

hai kawan.
minggu pagi. Saya sudah bangun dari subuh (dan gak tertidur lagi seperti biasa).

Partner sms saya tiada kunjung membalas sms saya, bosan nge browsing, akhirnya saya gunakan deh handphone ini buat killing time di tenah kebosanan ini.

Memang nya saya ada dimana?
Saya ada di rumah salah seorang kerabat jauh. Kondangan.
Kondangan yang kondang. Rencananya saya nemenin mamah saya di kondangan ini. Biasa lah,orangtua kalau mau kondangan biasa nya minta ditemenin anak (what an ironic, dulu waktu kita kecil-kecil… kita yang ngerengek minta ikut kalau orangtua pergi. Tapi giliran udah besar, ada berjuta alasan buat gak ikut dari kita. Hahahahaha).

Pagi ini, setelah semalam ‘disuap’ dengan 2 buku baru, saya mau ikut ke kondangan. Saya lebih memilih menemani ke resepsi sebenarnya, daripada harus menunggu di acara akad. Disamping bikin mupeng (hahahaha), saya sering bingung sama apa yang harus saya lakukan sementara mamah saya malah asik ngobrol.

Seperti saat ini, beliau (yang katanya tadi minta ditemenin), malah asik ngobrol dengan ibu-ibu yang baru ditemui. Heboh bercerita tentang apa… saya gak tau.
Tapi sepertinya heboh. Karena mereka seru berdua.

Dan saya dicuekin.

Saya kira saya udah bisa mingle ama gerombolan ibu-ibu. Secara tiap mamah saya ketemu temen-temen beliau, saya sering diajak ngobrol. Ngerti lah yang diomongin, kalo ga cucu yang lagi lucu-lucu nya, atau anak yang mau nikah, atau kerjaan anak mereka.

atau soal luna maya. Hahahahahaha. Cuma bercanda.

Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang?

kebingungan saya

hari ini saya belum update kinan – bima – genta dulu yah.

karena hari ini saya mau menceritakan sesuatu yang cukup membuat saya bingung:

pertama
saya bingung sama produk yang dijual di tanah abang dan mangga dua (dan tempat sejenis macam itu). kan katanya produk – produk yang dijual di sana itu itu palsu. yang jadi pertanyaan saya : yang beli tahu gak sih kalau barang itu palsu?
maksudnya… bukan tertipu. tapi pembeli itu tahu gak sih kalau lambang logo

itu adalah lambang merk terkenal? jadi tas atau pun dompet yang dipajang di situ itu adalah bajakan?

karena… jujur aja… saya baru tahu kalo lambang itu merupakan logo dari desainer terkenal sewaktu saya menginjak bangku SMA (apa SMP? hadooh.. saya lupa).
intinya begini : mereka tahu gak yah kalo barang yang di jual di situ itu adalah barang bajakan alias gak asli? seberapa banyak sih orang yang belanja di situ yang melek fashion? termasuk saya, saya adalah wanita yang sangat amat tidak melek fashion. saya gak tau koleksi yang ada sekarang spring, summer atau apalah. makanya saya hore bergembira aja kalo diajak belanja di sana. tapi yah memang saya menghindari belanja barang yang ada logo nya.

walopun kadang saya gak paham logo apaan itu.
πŸ˜€

kedua
kawan – kawan tau metromini?

metromini
kaya begini lah tampang metromini itu. kalau di jogja, yang seperti ini disebut bis kota. tapi kalau di sini disebut metromini (belum tahu kenapa disebut begitu). Jakarta memang keren, segala macam angkutan umum banyak namanya; ada metromini, bajaj, APB, KWK, mikrolet. hehehehehehe..

kenapa saya bingung sama angkutan metromini?

sebut lah saya udik, norak, kampung dan ndesit, tapi saya tetep gak habis pikir sama supir metromini ituh. kenapa? kadang dia bisa loh berhenti di tengah jalan saat lagi ngebut (sekali lagi : di TENGAH JALAN), saat lagi ngebut. buat nurunin penumpang. dimana, itu jalan lagi banyak kendaraan yang lewat. di tengah jalan loh… gak di pinggir jalan. entah yang minta turun yang salah, apa sopirnya yang salah. saya juga belum paham ampe sekarang.

duh norak banget sih saya ngomongin yang beginian.

*syndrom orang daerah ke ibu kota*
πŸ˜€

nyata dan maya (lanjutan: sepotong kisah dari bangku taman)

Berkembang.

Wanita itu mencoba menahan rasa yang perlahan berkembang. Karena ia sendiri tidak memahami apa yang ia rasakan. Jujur, ia merindukan kehadiran Bima, sang pria yang dengan santainya meninggalkannya di bangku taman.

Sekaligus heran, apa yang ia rindukan kehadiran dari Bima? Bima hadir, namun Bima tidak pernah hadir untuk dirinya. Hah… ambigu. Selalu saja begitu. Hal – hal yang berhubungan dengan Bima selalu saja hadir dalam dunia yang ambigu.

Namun entah kenapa, ia selalu tertarik dengan ambiguitas Bima.
Perlahan, ia meraih handphone yang terletak di tas nya. Cetak.. cetik.. cetak … cetik… jari nya lincah menari di atas keypad handphone.

Jangan tanya kenapa aku rindu padamu, Bima. Karena aku pun tahu kita tidak punya apapun untuk dirindukan. Namun, tidak bolehkah aku hanya merindukan sosokmu? Tidak rindu pada siapa dirimu, atau apa dirimu, atau apa yang kita miliki. Aku hanya rindu padamu, Carl*.

Semoga Bima paham. Lalu saat Bima paham, ia akan meminta Bima menjelaskan padanya apa yang sedang terjadi antara mereka.

Tak lama, handphone yang ada dalam genggamannya berbunyi. Perlahan ia membuka handphone. Balasan. Dari Bima.

anggap saja aku maya. anggap saja aku tak nyata. karena nyatanya, aku tidak ada dalam hidupmu. seperti saat kau menghapusku dari friend list mu di account itu. semudah itu.

bagaimana dengan mimpi kita? going to Paradise Fall?

Paradise Fall itu tidak nyata, sama seperti obrolan kita dua minggu ini. toh itu dilakukan di dunia maya. buat apa kamu tanyakan lagi? Carl dan Ellie pun tak nyata

tapi buat ku itu nyata

tidak, Kinan. Ellie, Carl dan Paradise Fall itu tidak nyata. itu tidak nyata. kalau itu nyata, disebut siapa kah Genta itu?

Kinan, sang wanita terhenyak membaca sms yang terakhir dikirim oleh Bima. Sejenak dia melupakan Genta, pria yang sudah dua tahun menjadi teman berbagi mimpi dan impian. Berdua dengan Genta, Kinan memiliki sesuatu. Berdua dengan Bima, Kinan pun yakin memiliki sesuatu. Sesuatu yang (menurut Bima) tidaklah nyata.

Lalu bagi Kinan, yang mana yang nyata?

***

carl and ellie

*Carl Fredricksen, Ellie dan Paradise Fall bagian dari film UP, film animasi terbaik pada tahun 2010.

* carl and ellie

ada kategori baru

dalam blog ini. namanya [drama] tambahan, rencananya adalah karya fiktif saya. suwer. itu cuman fiktif. tokohnya ada beberapa orang, namun so far… saya baru menulis satu kisah, memang… rencananya berapa kisah?

entah
πŸ˜€

dalam kisah pertama itu, saya baru memunculkan dua tokoh. namanya sementara ini belum ketemu, masih digodok di belakang panggung. masih bingung menuliskan nama, kira – kira nama seperti apa yang cocok untuk mereka berdua. karakter nya sendiri masih saya rahasiakan.

hahahahaha.. seperti film – film layar lebar; masih sering dirahasiakan ceritanya bagaimana. sabar yah, imajinasi saya sedang liar tak terkendali. mungkin sekali lagi… bentuk tanya yang berkelana ini membawa saya pada imajinasi yang liar ini.

so far, so fun membiarkan imajinasi ini berlayar.
tanpa dibebani apapun.

sepotong kisah dari bangku taman

dengan langkah lunglai, sang wanita menghampiri pria di bangku taman itu. wanita itu mengenakan kemeja hitam – putih, warna kesukaan sang pria.

saat wanita datang, pria itu tidak mengalihkan pandangan dari buku yang sedang dibacanya. seolah paham, wanita pun lebih memilih diam lalu meletakkan diri di sisi kanan pria.

“buat apa kamu ke sini?” pria itu bertanya tanpa mengalihkan tatapan dari buku yang dibacanya.

“saya ingin bertemu dengan mu,” perlahan wanita itu menjawab.

” untuk apa?” sekali lagi, pria berkata tanpa mengalihkan pandangan

“saya… saya… saya rindu dengan… mu,” terbata wanita itu memberanikan diri mengucap rindu lalu menatap pria di sisi kiri nya yang mengacuhkannya.

hening.

diam.

“untuk apa?” tanya pria itu memecahkan keheningan. dan sekali lagi, tatapan mata nya tidak teralihkan dari buku yang dipegang olehnya.

“maksudmu?” ragu wanita itu bertanya.

“untuk apa kamu merindukan saya? saya bukan apa – apa dan bukan siapa – siapa. dan kita tidak punya apapun untuk dirindukan” perlahan namun tegas, pria itu menjawab pertanyaan wanita itu. Kemudian ia menutup buku yang dibacanya, menyentuh tangan wanita dengan perlahan dan tetap tidak menatap wanita itu.

akhirnya, pria itu berjalan pergi meninggalkan wanita itu. Meninggalkan wanita itu dalam kesendirian dan kebingungan. secara sadar pun dia setuju dengan kata – kata yang keluar dari pria itu.

untuk apa aku merindukannya?

ngoprek panggung

bolak – balik ganti themes,

ganti judul blog,

mengubah penampilan,

mungkin ini regulasi dari bentuk pertanyaan – pertanyaan dalam diri yang kian merisaukan saya.

buat kawan – kawan yang sedang berkunjung; jangan bingung. saya tetap ais ariani yang itu… yang suka heboh ngomongin pacarnya, yang suka agak mendramatisir cerita, yang masih mengalami kesulitan untuk ber metafora, yang dengan PD nya mengklaim diri as a writer.

yah, masih tetap saya : si drama Queen yang mencoba eksis dan mencoba belajar mengubah sedikit sisi drama dalam hidup saya.

hahahahahhahaha..
tapi, dunia ini kan panggung sandiwara
πŸ˜€

so, nikmati saja pertunjukan nya.. lakon apa yang sedang kita mainkan. saat ini saya sedang rehat. mencoba menelaah.. drama apa yang sedang berlangsung di sekitar saya, dan mencoba untuk mengambik peran.

itulah enaknya menganggap hidup ini drama : saya boleh mengambil peran apapun
πŸ˜€

maaf atas ketidaknyamanan penampilan panggung ini yah kawan – kawan.