countdown : seven days again,

yeah…

Saya punya waktu 7hari,untuk menyelesaikan tugas akhir semester satu ini,yang terdiri dari beberapa proposal penelitiaan,dan satu penelitian minor.

Dan,saya sudah melewatkan dua hari terakhir dengan doing nothing,

typically me; menunda-nunda pekerjaan… (di kamuflase dengan cukup cantik oleh diri saya sendiri dengan istilah: mengumpulkan amunisi,dan saya akan mulai besok,toh masih seminggu,toh kemarin-kemarin saya sudah cukup keras sama diri sendiri.Memberi reward tidak apa-apa kan pada diri sendiri?).

Yang actually,semua kata-kata itu adalah bermuara pada satu kata: penundaan.Pekerjaan yang paling mudah.

Bravo me
😀

dia,dan kata-katanya..

dia:
“kenapa sih orang-orang suka nonton film itu?”

saya:
“kenapa memangnya?Menurutmu kamu film itu tidak bermanfaat?”

dia:
“iyah.”

saya:
“ada banyak yang bisa kita ambil dari situ,”

dia:
“apa?Sebutkan..”

saya:
“dari serial atau movie-nya?”

dia:
“serial,”

saya:
“aku suka cara mereka membangun persahabatan.Karakter mereka berbeda-beda,tapi mereka bisa tetap saling menghargai.
Ini terdengar dangkal yah?”

dia:
“yah..aku jelas gak suka sama film itu”

saya:
“but,that’s my favourite movie…”

dia:
“aku gak suka film itu,tapi aku gak akan ngelarang kamu nonton film itu”

saya:
“really?”

dia:
“yah,”

***

Again,that’s why i love u,capt..

pendangkalan cara berpikir

teman – teman dan orang – orang di sekeliling saya terkadang membuat saya merasa minder.

kenapa?

saat mereka mengetahui saya pernah kuliah di filsafat.

apalagi saat mengetahui saya memiliki blog ini, mereka berharap menemukan tulisan – tulisan mengenai filsafat. dan ternyata… saya rasa mereka merasa cukup kecewa saat tulisan saya ternyata tidak mengenal tokoh Plato, Socrates, Decartes, Kant, Heidegger, atau filsuf manapun….

termasuk Paulo Freire, si mbahnya skripsi saya.

terus pikiran saya melayang ke kelas yang hari ini saya hadiri. Kelas yang menyenangkan dan berisi empat presenter yang mencoba membagi informasi mengenai paper yang mereka baca. ada dua paper yang menarik mengenai hermeneutika dan semiotika.

dan saat itu mendadak saya di ajak kembali ke masa – masa kuliah saya di filsafat.

waw….

tau tidak; ternyata… saat mempelajari filsafat melalui ilmu lain memang sulit. kerangka berfikir yang sudah di bangun di ranah ilmu tersebut ternyata mampu membuat alam pikir kita menjadi terbatas. ter reduksi yah istilahnya?

entah ini sebuah keberuntungan atau appa, tetapi… *bagaimana menjabarkannya dalam kalimat?* : pengkhianatan saya dari filsafat ke psikologi ternyata membuat cara berfikir saya menjadi sempit dan sangat psikologis.

membuat hal – hal yang fundamental menjadi sedikit terlupakan.

dan, beruntung saya sempat mengenal filsafat. walaupun pertanyaan mengenai hakikat dan makna merupakan pertanyaan yang belum tentu bisa saya jawab.

it’s not easy to be me;

menyebrang dan kemudian menyandingkan kedua cara berpikir (untungnya tidak jauh berbeda, hanya mengalami sedikit pengkrucutan),
yang berat adalah : saat orang – orang berharap lebih dari cara berfikir saya.

i’m just commoner. really.