saya dan….

saya :

“ihhh kamu mah.. aku kan udah bilang sama temen – temen kamu kalau tugas posterku dibikinin sama pacar aku. Aku bilang kalau pacar aku pinter gambar. mereka kaget waktu aku bilang… konsep baru dirumus tadi malam dan kamu janjiin hari ini posternya udah jadi…”

dia :
“terus kamu gak bilang juga kalau pacar kamu pinter bohong?”

hahahahaha… orang sombong plus tukang bohong.. what a couple.. ada banyak hal yang emang harus dibenahi dari diri kita masing – masing…

what a couple..

Berita duka

Berita duka

Bagaimana kamu menyikapinya?

Saat kamu baca status di situs – situs jejaring sosial itu, di antara tulisan – tulisan keluhan – keluhan, referensi tempat makan, reviewe film dan curhat – curhat colongan temen – temen kamu, dan terselip di situ berita duka.

Sesuatu yang dimulai dengan ; “innalillahi wainnailaihi roji’un”….

Sedih? Atau simpati? Atau apa?

Awalnya saya sedih membayangkan keluarga yang ditinggalkan. Seperti beberapa waktu yang lalu adek kelas saya waktu SMA meninggal dunia, karena kangker darah. Dan almarhumah sedang hamil anak pertama. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan suaminya. Disusul istri dari teman SMA saya, meninggal dunia setelah sakit yang cukup panjang. Padahal, mereka baru beberapa bulan menikah. Pengantin baru istilahnya. Dan, unit Marching Band salah satu kampus di Yogyakarta baru – baru ini juga baru dirundung duka, karena salah satu anggota nya meninggal dunia dengan cukup tragis; ditabrak supir taksi dan kemudian mayat nya dibuang di pinggir jalan. Parahnya, sewaktu ditabrak, korban masih hidup. dan dia dying selama beberapa jam tanpa diperdulikan supir taksi bengis itu *maaf, saya tidak mengenal anda… tapi saya tidak paham juga dengan jalan berpikir anda, pak supir..*

Dan, pagi ini berita duka itu juga datang. Adik teman sekelas saya waktu SMA meninggal dunia. Saya cukup dekat dengan teman saya ini sewaktu SMA dan saya cukup kenal dengan keluarga dia. Adik – adiknya dua orang… satu pria dan satu wanita. Dan adik pria nya ini meninggal dunia kemarin.

Saya simpati dengan duka yang dialami keluarga almarhum. Almarhum anak pria satu – satu nya dalam keluarga. Masih muda. dan…. ah, tak terbayangkan dukanya seperti apa.

Saya disadarkan kembali, maut bisa menjemput kapan saja, dimana saja, siapa saja…

Hal yang sering sekali didengar. Namun, jarang kali diresapi. Betulkah?

(un) conditional

Love is unconditional…

Really?

Ada beberapa hal yang memang benar – benar kondisi tidak bersyarat. Harusnya. Namun… terkadang perasaan ikhlas sangat sulit kita tumbuhkan. Maksud saya, kita paham benar situasi dimana kita harusnya tidak marah, tidak ngomel… ehem.. gimana yah cara menuliskannya?

Sudah jadi common sense jika kita berada di situasi di bawah ini kita tidak boleh marah ;

• Saat harus kuliah sampe sore dan hujan – hujanan ngejar bis, kemudian menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk bertemu dengan kedua orangtua, namun harus menerima kenyataan saat kita hanya diberikan waktu tidak lebih dari 12jam untuk bertemu karena mereka harus pergi lagi.

• Saat kita begadang sampai malam demi satu bab proposal penelitiaan, hanya untuk menghadapi kenyataan esok paginya dosen tidak masuk di ruang kuliah dan bab satu kita hanya kembali terlipat di dalam tas

• Saat kita memberikan duit kepada nenek – nenek di dalam bis, kemudian kernet dan supir bis menurunkan kita di tengah hujan hanya untuk mereka bisa pulang lebih cepat ( maksud saya; helloow.. kita habis berbuat baik lohhh…)

• Saat kita jungkir balik ngerjain skripsi dan hanya untuk di contek oleh adek kelas …

• Saat kita menulis sebuah puisi yang menurut kita mampu membuat Shakespere iri karena kita mampu membuat yang lebih romantic, hanya untuk kemudian dianggap sebagai sesuatu yang picisan

• Saat kita selesai mencuci kendaraan kita dengan tangan kita sendiri hanya untuk dibasahi oleh hujan beberapa jam kemudian

• Saat kita harus susah payah mengirit demi sebuah buku, hanya untuk meringis waktu teman meminjam buku itu dan tidak dikembalikan dan saat ditanya dia hanya bilang buku kita hilang

FYI, saya tidak mengalami semua hal di atas. Saya hanya menggambarkan situasi – situasi yang bikin kita cumin bisa ‘gigit jari’… dan ada beberapa situasi dimana kita harus ikhlas. ikhlas menerima kenyataan bahwa memang.. keadaan tidak memihak kita. Kenapa?

Because there’s nothing to do to make situation better.

Ada beberapa situasi di atas yang menjadi unconditional. Mutlak. Memang begitu jadinya.

And then, back again to the topic; Love is unconditional

Love is unconditional. Really? Benarkah cinta itu seperti beberapa situasi di atas?

Tanpa syarat dan ketentuan berlaku.

Itu hanya cinta orangtua terhadap anak. Cinta hamba terhadap Tuhan nya (harusnya ). Cinta Tuhan terhadap hamba Nya. Itu cinta yang unconditional.
Karena, mengikuti perkembangan jaman, semakin sulit mencari sesuatu yang unconditional. Termasuk masalah cinta. termasuk mencari pasangan hidup yang mampu mencintai kita unconditional.

Namun kita juga lupa : sudah mampu kah kita mencintai seseorang tanpa syarat dan ketentuan?

Cinta terhadap orangtua saja terkadang masih bersyarat. Cinta terhadap Tuhan saja terkadang masih pake syarat.. kalau lagi susah.. kita bisa habis – habisan meminta, melakukan apa saja … belum adzan sholat ditunggu – tunggu, segala macam ibadah sunah kita lakukan. Tapi, jika sedang bahagia… pura – pura lupa sholat, membuat ribuan alasan tidak mampu saat harus melakukan ibadah.

Syarat dan ketentuan saya kadang berlaku dalam mencintai. mencintai siapa pun. Orangtua saya, Tuhan, kuliah saya, teman – teman saya… apalagi terhadap dia. Syarat dan ketentuan saya banyak.

Lihat mata orangtua, dan di situlah akan ditemukan cinta tanpa syarat.

Lihat matahari bersinar, di situ juga ada cinta tak bersyarat

Hirup udara segar di pagi hari, di situ juga ada cinta tak bersyarat

Namun saat kulihat cermin, yang ada hanyalah keinginan untuk membahagiakan diri sendiri.

Lalu?

L.O.V.E

gambarnya dari sini

phonebook handphone

Apa yang saya lakukan di hari libur ini? Saya ngotak – ngatik phonebook handphone saya. Saya menemukan nama – nama aneh di handphone saya.

Some like this :

Pak ade taksi
Pool Taksi
Siapa kamu?
Wahyudi SIM
Pak Rentcar

dan beberapa nama lainnya yang jarang saya utak – atik.
jadi, beginilah keadaannya : saya sangat ingin membersihkan phonebook handphone saya; menghapus nama – nama yang gak saya ketahui kenapa mereka berada di situ (actually, saya lupa..) , tapi saya worry suatu saat nanti saya mencari nama mereka dan saya tidak menemukannya.

Lalu kenapa saya ingin menghapus nama – nama mereka?

Karena gak penting.

Nama barisan penggila show off yang pernah saya ceritakan itu,
Nama mantan temen sekelas saya waktu S1 dulu,
Nama orang yang pernah gak sengaja kenalan di toko buku
Nama mantan – mantan saya….

Mereka semua saat ini gak penting kan buat saya. Tapi, suatu hari nanti … gak akan ada yang pernah tahu kalo nama – nama itu akan saya butuhkan kontaknya….

maybe,

Ya Allah,

beri hamba Mu ini petunjuk ya Allah,
saat ini hamba Mu ini sedang kehilangan arah

ntah kemana hamba Mu ini berjalan
yang terasa hanya gelap dan penat

kelam

rindu pada damai Mu yang pernah kurasakan

ya Allah, beri hamba Mu ini petunjuk untuk kembali pada Mu

maaf,

pintaku kian banyak kepada Mu
ku yakin tapi, engkaulah tempat terbaik untuk meminta

begini ceritanya,

kemaren saya buka buku harian saya – yang sudah tidak menjadi sahabat baik saya- , beberapa bulan yang lalu saya ternyata pernah menulis ‘masalah – masalah’ dan ke khawatiran saya saat itu.

dan yang saya tulis saat itu, adalah hal – hal yang bisa saya tertawakan sekarang. ehem.. koreksi, bukan ditertawakan, tapi hal – hal yang sudah bisa saya pinngirkan ke kotak ” no big deal ”

masalah semacam :

1. apakah saya bakal lulus matrikulasi?
(alhamdulillah lulus)

2. apa minat utama saya besok kalau saya masuk S2?
(PIO, alhamdulillah, walau masih agak sedikit tersesat, tapi cukup masih sadar )

3.jujur, minta utama saya apa dalam hidup?
(ini belum ada jawabannya)

4. siapa yang bakal saya percaya untuk memimpin negara ini pas pemilu besok? * yah, ini di tulis emang sebelon pemilu*
(udah saya jawab, tapi berhubung rahasia, gak saya tulis di sini)

semua itu bukan big deal anymore sekarang. saya jadi tertarik buat membikin list seperti itu lagi. siapa tahu… persoalan – persoalan itu akan lebih mudah untuk diselesaikan..
(hahahahahaha. ngarep)

persoalan teratas ais saat ini :

1. apa tema tugas akhir mata kuliah penelitiaan kualitatif?
2. kemampuan bahasa inggris yang (ternyata) di bawah rata – rata?!?!

udah.. dua itu saja yang berputar – putar di kepalaku. yang lain juga iyah, tapi tidak seperti dua hal itu..

huff…

bismillah,

ais pasti bisa

meninggalkanmu,

seperti merobek kertas bekas kita nonton pertama kali,
seperti membuang karcis naik kereta di perjalanan pertama kita,

dan juga…

seperti menghapus namamu dari contac number di handphoneku,

seperti menutup halaman terakhir di novel favoritku,

berat, sekaligus sangat mudah.
mudah yang teramat sangat, sehingga sanggup kutunda sampai entah kapan

*inspired by my power ranger….*

aku, kamu dan tugas (diantara) kita

membuat kita jadi seperti terpisah jarak dan waktu yang sangat jauh.
padahal kamu hanya berada di belahan kota lain saja, bukan belahan dunia lain.

kamu ada di jogja selatan, saya ada di jogja tengah.

gak jauh.

naik trans jogja juga sudah sampai.

tapi apa – apa yang harus kita kejar, menghentikan langkah masing – masing untuk saling menyapa.

begitu juga dengan rekan di ruangan kelas sebelah.

berbagi canda tawa hanya saat bertemu di lorong, atau sekedar berteriak “uno” di tempat ini…

dunia itu berputar seperti katamu.

memang ini saatnya.

saat nya dunia aku, kamu, dan mereka berputar. karena saat dunia tidak berputar, kita lah yang nantinya merengek minta di putar…

permintaan maaf untuk sahabat

Saya tahu, saya benar – benar orang yang tidak mampu me – maintance persahabatan. Inget kan kata – kata habis manis sepah dibuang? saya merasa sedang melakukan hal itu selama kurang lebih setengah tahun belakangan ini. Saya seperti tidak memberi perhatian kepada teman – teman saya yang dulunya sangat akrab. Humate saya, partner in crime saya, buku harian saya… saya tidak memusuhi mereka, tapi saya ndak menggauli mereka seperti dahulu. Termasuk sama blog ini.

Padahal dulu saya pernah mengangkat blog ini jadi pusat perhatiaan saya. Tiap kali buka laptop, yang saya pikirkan adalah keinginan untuk mencurahkan cerita saya sama blog ini. Tapi sekarang? Huff…

Bagitu juga dengan kedua sahabat saya. Saya bahkan tidak tahu dimana sahabat saya tinggal selama di kota ini. Saya bahkan sudah berhenti berbagi cerita dengan my partner in crime for (about) five months (??)

kehidupan saya berkutat di rumah, power rangers, dan saya paham nanti ada masanya saya pun melepaskan power rangers. apa ini siklus? tidak tahu. tapi saya sudah cukup lama tidak keluar malam, begadang, ataupun ngobrol hingga larut malam sama humate saya. Apakah saya rindu?

Yah, saya rindu berbagi bersama humate, apalagi untuk sharing muka jutek 
saya rindu berbagi aib dengan my parner in crime. Lalu, kenapa saya tidak menjumpai mereka?
entah karena apa.., mungkin karena ritme hidup kami yang sudah berbeda. entah…

saya benar – benar manusia yang tidak bisa me-maintaince persahabatan.

maaf…