mainstream

Ais, chicklit dan mainstream.

I love for being “mainstream”.
Weits.. kenapa nih si ais tiba – tiba nulis begitu? Jadi begini ceritanya, dari jaringan situs sosial itu loh, kan suka ada kuis – kuis lucu yang membuat kita suka usil ngikutin. Dari kuis kocak macam “seberapa besar tingkat kesetiaan kita” ; atau gak “artis siapa yang cocok jadi pacar kamu?”; hmph….. bahasa yang digunakan “aplikasi”. Lucu – lucu deh kadang. Nah , kemarin seorang teman saya yang bergabung di situs jarring sosial tersebut mengikuti satu buah aplikasi yang memuat pertanyaan – pertanyaan tentang teman – teman yang ada di friend list dia. Dan saya dapat pertanyaan “dua kata yang menggambarkan lifestyle ais ariani”

Dan, teman saya memberikan jawaban “ in the middle of chicklit”

Wow… saya kaget. Tapi sekaligus anguk – angguk kepala, istilahnya ; “gue bangeeet!!!!”

Yah, bisa dibilang hidup saya itu ‘chicklit’ banget. Bukan… bukan bagian ‘mapan, cantik, dan ditaksir banyak pria, dan social butterfly’ , tapi bagian ‘drama… drama… drama…’

Bacaan saya chicklit, dan itu mempengaruhi ke dalam aspek kehidupan saya. Saya pernah di tegur seorang teman untuk membaca out of the box, “kamu anak filsafat gitu…!!” dan sempat diprotes sama rekan se kampus karena membaca chiklit. Terlalu mainstream. But… saya memang produk mainstream. Apa yang orang sukai, itu yang saya sukai. Apa yang mereka bilang baik, itu pun yang saya anggap baik. Selera music, selera baca an, selera *mikir, apalagi?*…..

Lalu pikiran saya melenceng jauh ke satu masa di mana saya pernah membicarakan masalah pilihan bacaan saya. Saya bilang sama dia “ kalau saya nyaman dan merasakan mendapatkan sesuatu dari membaca chicklit, kenapa orang lain harus ribut sih?” yang nama buku yah tetap buku. Pasti ada sesuatu yang ingin penulis tersebut sampaikan. Sekecil apa pun itu. Ya kan?

Yah saya mengakui bahwa pengaruh chicklit lumayan besar dalam si ‘drama Queen’ di diri saya. Tapi itu tidak membuat saya berhenti membaca tentang si Rebbeca blomwood, atau princess Mia, dan tokoh ciptaan lainnya. Saya memuja mereka sebagai sosok khayalan yang beruntung karena bisa segitu nyatanya diciptakan oleh Sophie Kinsella dan Meg cabbot. That’s why I Love both of them.

Balik ke tulisan awal saya I Love for being mainstream. Pemikiran ini saya sadari saat pertengan tahun ini saya di Tanya I oleh senior saya mengenai music favorit saya, saya bilang “music yang lagi hip aja saya suka kok mas. Apa aja. Yang lagi sering diputer, yah itu yang saya senengin” kecuali music – music yang kadang bikin saya mengernyitkan dahi *ini music kok merusak kuping yah?* terus dia bilang “bener kata orang, apa yang dia denger itu berpengaruh sama diri dia. Kamu tuh mainsteam banget yah is”

Tuweng. Saya melongo. Dulu saya tidak pernah berpikir mengenai indie VS mainstream. Tapi makin lama, saya makin sering berbenturan dengan dualism ini; being indie, or mainstream?

Sampai pada satu keputusan ; “I Love for being mainstream”.
He eh *kepala ngangguk – ngangguk*
Makanya kadang suka sebel sama orang – orang yang heran sama ke cintaan saya sama chicklit. Saya juga masih suka heran sama orang yang memiliki ekspektasi berlebih sama status saya sebagai mahasiswa filsafat. I’m like the others, just like girl next door. Really. Seorang teman pun pernah geleng – geleng kepala saat bertanya soal beberapa band indie yang menurut dia cukup terkenal. Tapi buat saya, yang saya kenal dari dunia Indie, hanya mocca, Balada of the cliché, sore, the telephone? Ahahahahahahahaha….

10 Comments

Filed under [drama] lepas

10 responses to “mainstream

  1. penunggu subuh

    the telephone?? hm.. hm.. ya ya ya.. saya juga suka.. *sambil cengir2*

  2. saya sih…mainstream…nggak…tapi indie juga nggak…

    Alias idupnya di tengah-tengah dunia ituh…wkwkwkwk…😀

    • ais

      ..lah itu, batas nya sebenarnya di mana toh?
      ada yang bilang.. indie is the new mainstream..
      *sama kaya orang ngomong black is the new white*

      halaaah…

  3. Balada of the cliché, sore, the telephone

    HAh …
    Itu mah bukan mainstream Is …?
    hahahah …

    (ini aki-aki pengen sok tau band indie segala)

    Salam saya …

  4. yoan

    Hehe..
    Dengan menulis kayak gini aja sudah kliatan filsafatnya..
    Mana ada yang mikirin segituna..
    Be urself ajah. The best decision:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s