Belajar.

Hai kawan, hari ini saya belajar hal baru dan berkenalan dengan seseorang yang baru. Actually bukan berkenalan, kenal nya udah lama,tapi baru ngobrol tadi sama dia. Menyenangkan obrolan via YM itu. Dia itu temen SMA nya esa, tapi kalo di urut2,kita pernah satu kampus jaman dulu, sebelum dia pindah ke kampus dia skrg.
Mengobrol lah kita.Awal nya ngomongin esa [hahahahaha…tapi saya belum sempet cerita kalo dia ngilang].
Yah, obrolan biasa antar wanita lah -yang gak penting ditulis di sini juga apa isinya-

sampe akhirnya, kita ngomongin keunikan. Sampai lah dimana dia punya statement yang menurut saya unik. Dia bilang gini ,
“sebenernya pamali kalau kita bilang kita itu unik. Karena orang unik itu berbeda, dan suka susah untuk diterima”
huaaa…Baru tau saya ada orang yang punya pendapat kaya gitu. Biasa nya kan orang kalau unik,beda…yah mau nya kelihatan beda. Eh dia malah gak mau merasa unik. Walaupun dia memang berbeda,
dan saat nulis ini pun saya lagi terlibat pembicaraan dengan dia, tentang keyakinan dan kebenaran. Yang kita yakini sebagai dua hal yang berbeda. Apa yang kita yakini, sudah pasti kita anggap benar. Tapi begitu juga dengan sesuatu yang benar, bukan berarti harus kita yakini.

Itu juga yang ibu dosen saya bilang; ada yang namanya kebenaran dan ada yang namanya kepercaya an [dulu waktu saya kuliah filsafat, ada beda nya antara kepercayaan dan keyakinan. Tapi lagi2 saya lupa apa bedanya]

nah, yang saya heran adalah kenapa yah banyak orang takut untuk belajar filsafat,atau menganggap filsafat tuh tabu,aneh,menyeramkan,kuno dan sebagai nya..

Pdhal,kami di filsafat tidak mempelajari apapun untuk merusak keyakinan. Kami -sama seperti pengetahuan lainnya- belajar mencari kebenaran. Dengan cara apa? Banyak cara yang kami gunakan. Satu yang pasti, kami membebaskan pikiran kami berjalan kemana pun.
Termasuk soal apa yang kita yakini. Japi bukan karena meragukan apa yang kita yakini. Karena saat mempertanyakan kebenaran, apa yang kita yakini harus kita sisihkan dulu.

Bagaimana kita mengkombinasikan kedua hal tersebut,itu menjadi tanggungjawab diri pribadi, merujuk pada kematangan individu masing2.

Makanya,filsafat itu gak ada dalam kurikulum sekolah menengah, apalagi sekolah dasar. Kenapa? Karena, kematangan individu anak usia sekolah, dirasa kurang mampu untuk menerima stimulus seperti apa yang ada di filsafat.

Hmph,apa ini udah dipahamin semua orang sih ternyata?

*thank you ce bwt chattingan kita,nice to know you more,bu…*

perkembangan terbaru dari esa yang MIA [Missing In Action] : ibunya nelpon saya pas saya lagi kuliah, gak saya angkat. Tapi beliau sms, bertanya “apa angka bilang akan pulang ke sini hari ini?”
toweeng…

Oh, esa…you’re still the unpredictable one..
831 lah hon…

Leave a comment

Filed under [drama] lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s