menciptakan kesempatan

Ceritanya begini, dulu saya sempet ikut training di sebuah radio network yang ada di Jogja. Radio ini merupakan seuatu bagian besar dari jaringan media yang berkantor pusat di Jakarta. Suatu hari, big boss datang dari Jakarta, nasib saya memang, yang baru ikut training tapi harus melewati masa-masa pergantian Operational Manager Jogjakarta, dan mengharuskan sang Big Boss datang ke Jogja… dan beruntunglah saya dapat bertemu dengan Big Boss itu pada masa training saya.
Kedatangan Big Boss sudah santer terdengar dari beberapa hari sebelumnya. Sebenernya Radio itu santai banget. Sehari2nya kebanyakan senior2 saya di awak program, lebih sering menggunakan sendal jepit dan berkaos-kaos ria di kantor. Tapi, menjelang kedatangan Big Boss, kesan santai nya agak berkurang. Bahkan senior2 saya mendadak berpakaian rapih dan bersepatu!!! Ow..ow..ow… saya yang hari itu menggunakan sendal jadi ngerasa saltum. Tapi yah sudahlah. Yang mau saya omongin bukan itu kok.

Big Boss itu orang sukses menurut saya (ya iyalah, kalau gak….gak mungkin dia jadi Big Boos). Sepanjang General Meeting, saya sibuk jaga image. Saya bingung. Ini general meeting saya yang pertama, sama Big Boss pula. Teman kanan – kiri saya bukan awak program, jadi gak bisa saya ajak ngobrol juga, buat sekedar nanya hal2 yang bagi saya gak jelas. Tapi tiba2 saya tertarik dengan kata-kata Big Boss, ” Jadi, kesempatan itu bukan buat ditunggu. Kesempatan itu untuk dicari. Kan ada tuh orang yang bilang, saat kesempatan datang, langsung diambil. Lalu bagaimana kalau kesempatan gak datang? Harusnya kesempatan itu kita cari,kita ciptakan….”

Waw. Saya bengong. Mungkin orang lain udah sering denger kata-kata itu. Tapi, saya baru menemukan teori itu. Saat itu saya langsung mangut2 penuh semangat. Merasa termotivasi.

Waktu berlalu… saya gak jadi tandatangan kontrak di Radio tersebut. Padahal, saya sudah melaksanakan kewajiban saya sebagai produser selama seminggu di sana. Pontang panting nyusun naskah dan nge-direct dua penyiar saya. Gak nanggung-nanggung, saya ’memegang’ prime time.  Saya juga sudah ngerasa nge blend banget sama senior2 saya di divisi program itu. Mereka cihuy2 lah menurut saya. Asyik-asyik banget. Jujur, saya gak enak banget sama senior2 saya. Mereka meluangkan banyak waktu buat saya yang sama sekali tidak ber background broadcast. Ngajarin saya banyak hal, tapi malah gak jadi saya pergunakan di situ. Tapi gpp lah, mungkin mereka memang bukan jodoh saya (ahahahahaha…)

Dan, kata2 Big Boss yang sempet memotivasi saya itu pun terlupakan begitu saja. Saya mengingat kembali kata2 itu saat saya membaca majalah (*mikir. Itu majalah boleh kan yah disebut disini?*) CosmoGirl edisi July 2009. Saya gak langganan majalah itu kok, hrga majalah itu bisa buat jatah makan saya dua hari soalnya. Hehehehehehe…
Di majalah itu ada salah satu artikel yang bercerita soal Bondan Winarno, itu loh yang suka ada di Wisata Kuliner. Kata mamah saya, oom Bondan ini temennya Pakde saya waktu masih sekolah. Sama-sama aktif di pramuka, barengan juga sama mamah saya. Saya pernah loh ikut reunian Grup pramuka mamah saya, setelah di iming-imingi sama mamah saya kalau Oom Bondan kemungkinan besar ada di acara itu (ternyata gak ada, oom Bondan lagi keluar kota. Apa luar negri? Saya lupa). Di ujung artikel itu, ada kata-kata ”kesempatan itu harus dicari, bukan ditunggu”.
Hmph, gmana tepatnya, saya lupa. Yang saya inget yah intinya seperti itu. Lalu saya inget kalau kata2 itu bukan pertama kali saya denger. Kata2 itu pernah saya denger dari (bekas)  Big Boss saya. Saya ke inget lagi sama kata2 itu.

Kata2 yang pernah memotivasi saya (dulu). Inget pas denger kata2 itu saya jadi semangat ’45 (atau semangat ’98 lah) buat beraktifitas. Bahkan saya pernah menghabiskan hari saya nyaris 10 jam di radio itu. Ngapain? Mengeksplorasi ide. Seru bgt. Tapi, kenapa bisa kata2 itu terlupakan begitu saja?

Makanya, saya menulis kata-kata itu di blog saya, di buku harian saya, di handphone saya, biar saya ingat terus sama kata2 yang pernah memotivasi saya, sama seperti kata2; HAJAR BLEEH yang saya dapet dari pacar saya pas saya lagi nyusun skripsi.
Bukan kah itu gunanya menulis yah?

Kesempatan bukan hanya ditunggu, tapi untuk diciptakan juga🙂

2 Comments

Filed under [drama] sekitar

2 responses to “menciptakan kesempatan

  1. guskar

    Bukankah Ais sudah memiliki keberanian untuk meraih sukses? Jika sdh memiliki keberanian itu (mskpn dikiittt), yang perlu kita lakukan adalah mulai mencari atau bahkan menciptakan kesempatan, klo perlu dari kesempitan yang kita alami.

  2. marsita ariani

    jadi kaya Judul pilemnya dono jaman dulu,
    kesempatan dalam kesempitan🙂
    iyah kang, saya lagi pake mikroskop bwt ngeliat kesempatan itu.
    kadang kemauan itu hilang ditelan keragu2an…😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s