masalah kepercayaan

Bukan, ini bukan masalah religius. Rasanya gak mampu ajah kalau harus membahas soal religius, karna merasa gak banyak paham soal itu. Dan lagi, bukankah soal religi itu adalah soal yang sangat amat pribadi. Aku jadi ingat waktu dulu masih kuliah di hutan belantara filsafat, lupa tapi waktu itu ngambil kuliah apa… yang jelas kita lagi diskusi soal pancasila (kalau tidak salah ingat. Maklum, dah lumayan lama juga). Lagi asyik diskusi (actually, jangan tanya disitu aku ngapain; seperti kebanyakan diskusi yang aku ikutin di kelas-kelas pas kuliah, aku hanya menjadi pendengar yang baik sesekali nyenggol temen sebelah bwt berbagi opini. Aku bukan termasuk orang yang berani mengungkapkan pendapat di muka kelas. Itu terjadi sejak aku masuk filsafat, percaya deh. Filsafat sukses membuat aku menjadi mahasiswa pasif),tiba2 ada yang mengajukan pertanyaan sama kelompok kita. Aku inget banget waktu itu kelompokku jadi kelompok yang mempresentasikan. Pertanyaan begini; ” agama anda apa? ” dan mulai lah si penanya itu mengkaitkan omongan teman saya si jubir dgn agama yang ada. Teman saya menjawab; ”agama saya benar islam, tapi maaf… saya rasa tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang kita bicarakan”

Bum… di situlah aku sadar, bahwa agama memang benar2 persoalan sangat amat pribadi. Bukan bermaksud sekuler dengan tidak mementingkan agama, hanya saja… itu sangat amat pribadi. Memang, akan membawa pengaruh terhadap cara pandang dan pendapat seseorang. Tapi kan.. hei… itu sangat pribadi loh. Tidak akan berpengaruh bukannya tingkat ke taat an seseorang terhadap kelakuan dia? Serius, aku kenal beberapa orang yang sangat paham dan sangat mengerti agama yang dia anut, tapi berkelakuan kebalikan dari apa yang diajarkan oleh agama nya. Itu kembali kepada pribadi masing2, tidak terpengaruh oleh agama yang dia anut. Itu yang aku pahamin dan sangat aku hormati sampai sekarang. Jadi aku selalu salut sama orang2 yang tidak usil dengan keyakiann seseorang. Itu pilihan dia. Orang tersebut pasti sangat paham sama apa yang dia jadikan pedoman. Tidak usah ributlah. Aku hanya tersenyum saat banyak orang mengira di filsafat kita diajarkan untuk menjadi atheis, huahahahahahahaha.. kami mempelajari pancasila. Kami masih menjadikan pancasila sebagai Ideologi kami, bangsa Indonesia (hei, kami juga bangsa Indonesia loh…).

Yah… yang pasti, saat ada teman2 filsafat memutuskan untuk tidak mempercayai ada nya Tuhan, itu berarti mereka sudah berani untuk mengutak-atik Tuhan. Tidak seperti aku, yang belum sanggup untuk membiarkan daya pikir ini berkelana mencari Tuhan. Saya pernah mencari itu, dan saya tiba di titik dimana saya benar2 percaya bahwa DIA itu ada (terimakasih kepada kelas pas Arqom, yang membawa saya pada titik itu). Dan saya merasa cukup.

Anyway… sampai dimana kita? Di luar konteks sebenarnya apa yang mau ditulis. Seperti biasa. Bukan ini maksud saya saat awalnya niat ngepost. Hah…

Maap nih belum bisa memutuskan untuk menggunakan aku atau saya. Masih asyik dengan apa yang pengen diceritain.

Jadi begini, belakangan ini aku kepiikiran mengenai masalah kepercayaan. Yah, kepercayaan terhadap orang lain. Hmph, bagaimana yah pilihan kata yang tepat, biar ini gak terdengar ambigu? Okeh… aku gak bisa nemu. Aku gak bisa nemu selain kata ’kepercayaan’. Kepercayaan disini maksudnya adalah kepercayan antar individu. Jadi kaya misalnya kepercayaan aku bahwa esa gak bakal macem2 di sana. Dan kepercayaan esa bahwa aku bakal tetep jaga hati aku bwt dia. Yeah…. some like that lah. Kepercayaan ini memiliki tingkat-an yang bersifat labil. Dia naik turun. Hari ini aku sangaaat percaya bahwa esa emmang menjaga hati nya di sana. Tapi, bisa jadi kemarin aku gak percaya sama dia. Apa yang mempengaruhi itu semua? Aku percaya banget… komunikasi sangat mempengaruhi itu. Dan juga ketulusan. Ketulusan untuk mempercayai orang lain selain diri sendiri. Untuk itu, kepercayaan ini dibangun, butuh waktu. Kepercayaan bukan tangkuban perahu, atau candi loro jonggrang yang bisa jadi dalam waktu sekejap. Kepercayaan itu seperti kota roma, yang tidak dibangun dalam waktu semalam. Itu membutuhkan waktu. Dipupuk. Seperti tanaman. Dijaga. Seperti cinta.

Masalah bagaimana jika kepercayaan itu dikhianati, itu lah bagian dari resiko kita mempercaya. Berani percaya, juga harus siap dikhinati.

Satu hal yang aku rasa belum aku punya saat ini.

4 Comments

Filed under [drama] sekitar

4 responses to “masalah kepercayaan

  1. guskar

    Kepercayaan itu bukan untuk diminta, tapi diberikan. Seseorang tidak bisa memaksa orang lain untuk mempercayainya, akan tetapi dia harus bisa membuat orang lain percaya kepadanya.

    Itu membutuhkan waktu. Dipupuk. Seperti tanaman. Dijaga. Seperti cinta.(saya suka kalimat ini)😛

  2. bibit m

    Aq mumet macane (kalo “macanne” ada di Ragunan)! Kepercayaan adalah barang mahal namun kita butuh. Rasulullah saw sdh memberi tausiyah agar kita dipercaya orang lain yaitu jgn jd orang munafik. Artinya : kalo berkata jgn dusta (bohong), kalo berjanji jgn diingkari, dan kalo dipercaya jgn berkhianat.

  3. ya betul kata mas guskar…rasa percaya nggak bisa dipaksakan untuk diterima. rasa itu muncul pada orang lain yang melihat perilaku kita…
    dan kalau rasa percaya itu sudah muncul…harus dijaga. mahal harganya.

  4. Pingback: terharu berat « dramaLand

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s