stop judging

hai temans! selamat hari minggu

*bersihin sarang laba – laba di tembok keraton putih*

hehehehehee. udah lama banget yah saya si ais ariani, pemilik dramaLand ini gak berdrama ria di dramaland kesayangan. gak boleh nyalahin keadaan yang bertambah sibuk dengan urusan kerjaan sih, nyatanya banyak orang – orang di luar sana yang tetap bekerja dan tetap produktif nulis, ya kan. jadi, yang bisa disalahkan dalam penurunan produktivitas menulis adalah: saya sendiri; karena gak bisa membagi waktu.

baeklah, kita mulai hari minggu pagi ini dengan sedikit produktif dalam dunia perblog-an. mumpung saya lagi ditinggal sendirian di kamar hotel nih, gara – gara semua keluarga saya yang weekend ini lagi berkumpul di satu kota memutuskan nengok ke rumah salah satu kerabat. dan saya memutuskan untuk stay di hotel karena -ngeluhnya- sakit.

apa yang akan kita obrolkan pagi ini? ditemani cangkir teh hangat ini? hmm…. sadar atau gak yah, kehidupan saya dua tahun belakangan ini berubah. berubah banget.

dulu waktu masih jadi mahasiswa, pekerjaan saya: galau – ngeblog – galau – ke perpust – galau – ngeblog – galau – revisi tesis.

sekarang: ngurus SPPD – nomorin surat – terima invoice – ngelobi sales hotel – mikir makan siang apa – terima complain karyawan lain soal hal-hal umum – cek imel – dan jutaan pekerjaan rutin yang biasa dikerjain staf sdm & umum macam saya.

fyi, setelah satu tahun lebih saya bekerja di salah satu divisi di salah satu perusahaan besar di pinggiran Jakarta, saya sekarang pindah ke divisi (finally!) SDM & Adm. Kantor di anak perusahaan si perusahaan besar.

banyak perubahan terjadi lagi setelah itu.

jam kantor yang gila – gilaan. kerjaan yang kayanya ga ada habisnya (tapi, bukankah begitu ya yang namanya pekerjaan?). teman – teman sekantor yang cukup seru dan gila. pada akhirnya temen kantor saya gak berkutat seputaran si mbak sekretaris aja sih senengnya, sekarang saya punya teman sekantor wanita yang lumayan banyak. teman sekantor yang laen? yah kurang lebih berkutat masih itu – itu aja, cuman udah lebih variatif aja sekarang, gak cuman isinya oom – oom bos dan oom – oom pandu. sekarang udah banyak papa – papa muda yang kerjaannya lembur dan kemudian ngeluh ga punya waktu buat anak mereka. hehehehe

but, life is choice, right?

hidup ini adalah pilihan. dari saat kita membuka mata di pagi hari, kita punya pilihan; untuk terus hidup di mimpi – mimpi kita (baca: terus tidur), atau memberi kesempatan diri kita menghidupi mimpi (baca: mengejar mimpi *kemudian soundtracknya Jrock*). saat kita keluar rumah pun kita disuguhi pilihan. beragam. mau naik apa nih ke kantor? bisa naek angkutan umum, naik ojek, nebeng tetangga, atau ikut komunitas nebengers (eh).

pas udah memutuskan pilihan, kita pun akan dipaksa untuk menuju pilihan lainnya. kalau naik angkutan umum, naik yang jalur mana yah yang cepet. nebeng juga gitu, nebeng sama yang mana ya. atau minta jemput siapa ya, pacar atau selingkuhan (halah).

hidup ini penuh dengan pilihan!

eits, kata siapa hidup HANYA seputaran pilihan? hidup juga berbicara soal bertahan pada pilihan, berjuang untuk pilihan. ya kan?

pemikiran itulah yang kerap menghampiri saya, staf baru dan pejuang baru di ibu kota ini. kadang saat perjalanan pulang dari kantor saya banyak berpikir; ‘aku ini ngapain sih sebenernya kerja sampai jam segini, jauh dari keluarga, ketemu pacar aja gak sempet, nulis dan baca aja udah jarang banget, ibadah juga seenaknya, hubungan sama Sang Pencipta hanya sekedar syarat, hubungan dengan sahabat juga boro – boro mempertimbangkan kualitas dan kuantitas, untuk sekedar say helo aja kadang gak punya tenaga, cita-cita untuk kembali ke bangku kuliah menguap sudah dengan pemikiran gile aja mau kuliah lagi, kapan waktunya!,’

bener kata coach Rene di harian kompas di kolom Ultimae u – nya; the problem is not the lack of time, but the lack of focus

karena memang betul begitu. kadang saya mau dateng ke kantor jam berapapun saya punya ritual buang waktu macam ini: nyampek kantor – ngobrol di pantry sama OB atau sama temen kantor yang dah dateng duluan, biasanya edisi curhat soal kerjaan juga – nyalain komputer – mbukak Youtube, bikin playlist hari ini – cek list to do – mulai kerja – dissamperin bos, dicek atau disuruh ngerjain apa gitu – kerja lagi – disamperin OB, dilaporin makanan di kulkas habis, atau makan siang hari ini mau pesen apa – mulai kerja – makan siang dateng – kerja lagi – terima telpon – akhirnya ngurusin pesan dari penelpon – ke gedung sebelah ngobrol – eh kebablasan dikasih kerjaan sama bos di sebelah – tiba – tiba sudah jam lima – cek to do list, baru separuh selesai – akhirnya lembur, karena punya tanggungjawab menyediakan makan malam.

banyak hal – hal yang harusnya sudah bisa saya delegasikan ke orang lain, tapi entah mengapa saya masih taking control di situ. Kenapa? Entah.

ah, lagi – lagi judul sama isi gak nyambung :sigh:

pada intinya begini: dulu, jaman masih jadi mahasiswa yang berjuang menyelesaikan tugas akhir, saya merasa menjadi mahasiswa adalah peran yang sangat berat dengan segala tuntutan revisi dan pemuasan pertanyaan sebagai seorang peneliti. saat itu saya memandang seorang pekerja hanyalah sekumpulan orang – orang yang kebanyakan bermimpi tentang mewujudkan ide lalu kemudian terjebak di dunia nyaman mereka dan berteriak tersiksa oleh rutinitas; manusia – manusia cengeng yang tidak berani.

tapi sekarang setelah melewati proses itu, setelah menjadi bagian dari; -manusia manusia cengeng tidak berani, saya paham. sangat paham, ada begitu banyak yang memang harus dipertimbangkan dalam melangkah saat kamu sudah menjadi seorang pekerja. apalagi pekerja di suatu sistem besar. kamu punya apa yang mereka sebut tanggungjawab.

manusia – manusia cengeng tidak berani ini lah yang sebagian besar menjadi roda – roda perusahaan dalam berputar, yang membuat sebagian besar perekenomian Indonesia berputar, persis seperti yang Hugo Cabaret katakan saat dia berada di jam besar di stasiun (dalam film Hugo yang tayang di 2012)

Everything has a purpose, clocks tell you the time, trains takes you to places. I’d imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured if the entire world was one big machine… I couldn’t be an extra part. I had to be here for some reason. And that means you have to be here for some reason, too.

we’re not an extra part. we had to be here for some reason.

termasuk kami, si manusia – manusia cengeng yang tidak berani. di pundak kami ada banyak tanggungjawab, beban, peran yang harus kami pikul.

dan satu hal yang pasti berubah dari ais, si mahasiswa pejuang kelulusan yang telah menjadi pejuang ibu kota adalah; ‘stop judging’

karena kita benar – benar tidak pernah tahu alasan sebenarnya seseorang dalam melakukan sesuatu. ya kan? kita gak pernah tahu alasan si ani datang telat ke kantor, kenapa si kijang biru di depan nyalip kita dengan seenaknya, atau kenapa si joko mau jadi selingkuhan si melati, kita gak akan pernah tahu.

Ya gak sih?

susah memang mengurangi kebiasaan bergunjing (halah), tapi mulai lah untuk lebih memahami bahwa ada alasan kenapa orang melakukan sesuatu.

Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle

everyone you meet is fighting a hard battle, be kind

oke, baiklah kalau begitu .. mari kita menikmati sisa hari minggu ini dengan bersenang – senang :)

mari kita berbicara soal sepakbola

yuk mari.

heihoooo … selamat hari senin!

Apa kabar temans?

Siapa yang masih terkantuk – kantuk hari inihh??? Siapa yang masih merasakan euforia gol-nya Gotze pagi tadiiii? siapa yang masih kesel karena ternyata gol-nya Higuain terganjar offside padahal udah selebrasi???

Siapa yang masih sok tahu soal bolaaa??

untuk pertanyaan terakhir itu,  jawabannya adalah: Mbak ais.

Hahahahahaha.

Dua pertandingan terakhir Piala Dunia 2014 saya nonton dong. Gak tanggung – tanggung, saya nobar sama temen saya di salah satu cafe – cafean di daerah Kelapa Gading. nanti kapan – kapan sata review lah itu cafe. sekalian promo. kali aja ada yang mau ke sana, saya bisa titip es teh tarik favorit saya. hehehehehe…

Jadi, hari minggu dinihari saya dijemput sama temen saya sekitar jam setengah satuan. iya, kita dengan pede dan takut ga dapet tempat dateng jam sgitu. kocaknya temen saya ini baru jadi supir keluarga ke Cikarang. jadi, dia seharian ga sempet nabung tidur. walhasil dia nunggu dari jam satu itu ke mulainya Brazil – Belanda bolak – balik terkantuk – kantuk.

Saking garing ga ada bahan obrolan karena nyawa masing – masing (saya baru bangun tidur 15 menit sebelum dijemput), kita kebanyakan makan sama minum aja. lumayanlah sambil bercanda sama Waitress – waitressnya yang udah kenal sama kita berdua :D

begitu pertandingan mulai, ada masalah teknis. proyektor yang disediain di lantai atas (kita dapet meja di lante atas dari cafe itu) gak berfungsi baik. mas – mas supervisor mulai panik, saya pun ikutan panik. kenapa? Karena kami kan sehati #nahLoh

hahahahahaha.

Akhirnya pada menit kesekianlah itu proyektor uda bisa konek sama tipi. sementara belum konek, bagaikan penonton VIP, kami nonton pertandingan dari lantai dua.

terus gimana Is pertandingannya? Haduh .. sedih lah nontonnya. Walau ga sesedih pas lawan Jerman ya, pas liat si Abah – Abah megangin dummy nya Piala dunia sambil bengong … rasanya ikutan sedih.

Nah pas lawan Belanda ini … kalah juga sih ya. gak seru lah pertandingannya.

nih suasana perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2014, sepi kan yah?

nih suasana perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2014, sepi kan yah?

 

kita skip ke pertandingan dini hari tadi ya.

saya dateng ke cafe yang sama jam dua lewat sekian, ternyata telat. saya pikir mulainya jam 3 kan yah sama kek kemarennya itu. Jebul saya salah jam. beginilah penonton bola musiman gayanya sejuta. uda sibuk ribut dulu sama spv Cafe nya gara-gara saya reserve cuman buat berdua diprotes sama dia. begitu dateng, kita telat sodara – sodara. Dan ternyata kita dapet tmpat persis depan layar proyektor. meja kecil di pojokan dengan kursi cuman satu, dan terpaksa saya geret – geret kursi dari meja sebelah. rame gilak!

Gak serame di  La Piazza sih ya,

Mulai deh itu sorak sorai pendukung masing – masing tim. Saya sama temen saya yang nonton bareng ini sama – sama megang Argentina. Yah paling gondok pas Higuain ngegol-in. uda bersorak sampek lompat – lompat dari kursi lah kami tuh, ternyata baru disorot si hakim garis ngangkat bendera.

ganti bersoraklah itu pendukung Jerman.

Seru. Pertandingan finalnya seru pake banget. Argentina yang katanya CUMAN punya Messi (dan Jerman punya tim, katanya) mampu membuat Jerman bermain hingga babak tambahan dimainkan.

Apalagi melihat statistik pas kelar babak pertama, Argentina cuman megang bola 30 sekian persen. Sisanya bola dikuasai Jerman. sampek mikir, ini maen setengah lapangan apa gimana. kan kasian, Neuer jarang disorot *halah*

pas abis babak kedua udah ga sempet lagi merhatiin statistik, tapi permainan Brazil yang katanya cuman ngandelin Messi patut diacungi jempol kok.

Firasat jelek pas Klose diganti. aduh pemaen satu ini dulu baru – baru keluar adek saya masih esde dan ngefans banget. bahkan dulu imel pertama dia klose_29@yahoo.com sekarang adek saya uda semester akhir kuliah. kebayang umurnya. Totti aja udah pensiun (Totti maning si ais… ais… ). Diganti sama Gotze yang ganteng.

gerombolan mas – mas belakang saya seneng banget begitu si pemaen bundes liga ini masuk. saya mah gak paham sepak terjang dia. secara pemaen cadangan yah bok. dan baru ngegolin sekali juga pas piala dunia.

dan emang hokinya si Gotze, tendangan kaki kirinya yang cakep itu berhasil ngebobol gawangnya Romero. mengingat yah .. shootnya Jerman udah berulang kali berhasil dihalau sama Romero.

sekali lagi, sorak sorai gemuruh pendukung Jerman terdengar. mereka nunjuk – nunjuk seragam yang mereka pakai, seakan – akan bilang; “INI GUE MENAAAANG INIH!!!”. dan hebohnya itu loh …

sebenernya ulah penonton bola di Nobar itu lucu ya. kaya sodara mereka aja yang maen, kek kakak sama Abang mereka aja yang maen, kaya negara mereka aja yang maen hebohnya sampek segitunya.

salah satu pendukung Argentina yang gayanya udah kek pacarnya aja yang kalah

salah satu pendukung Argentina yang gayanya udah kek pacarnya aja yang kalah

Tapi emang iya sih ya. saya ini bukan penggila bola, tapi penonton musiman yang seneng sama euforia-nya. jauh sebelum upacara pembukaan bulan kemaren, saya udah ancang – ancang mau nobar

cuman berhubung jadwal ga sefleksibel dulu dan udah punya rutinitas, dijadwalin nonton dua pertandingan terakhir aja, yang laen biar pas selo aja nontonnya, di rumah.

dan nobar itu emang juara banget deh rame dan serunya.

yang heboh maen di lapangan ada, yang heboh sorak sorai di depan layar ya ada. yang kasian yang Waitressnya karena kudu bolak balik ngambil dan nganter pesenan. sama dedek – dedek yang tanggung umur yang diajak sama oom atau tante atau bapak emaknya buat nonton; dengan upah eskrim. dan berakir di pojokan kursi nyaris ketiduran.

ya begitulah sepakbola, asyiknya kalau diomongin gak ada habisnya. besok ketemu sama temen yang doyan bola yah yang dibahas golnya si Gotze, bahkan offside nya Higuain sampek empat tahun ke depan juga masih dibahas itu. ya ga? Hahahahahaha.

dan beginilah tulisan dari si pengamat sepakbola amatir yang nonton bola musiman.

so, jagoan kamu Jerman bukan? Apa mendadak Jerman?

sampai ketemu di Euro 2016 yah.

***

:)

ini saya an temen saya yang nonton sambil ngeceng tadi pagi hihihihihi..

ini saya dan temen saya yang nonton sambil ngeceng tadi pagi
hihihihihi..

nostalgia internet

Selamat Hari Senin, Temans!

Pagi tadi, saya ikut kelas bahasa inggris yang difasilitasi kantor. jadi, saya dapet jatah untuk belajar bahasa inggris dua kali seminggu masing – masing selama dua jam.  awalnya agak males ya boook, tapi kok sayang banget kesempatan emas buat belajar disia-siakan. we know lah, kesempatan buat belajar kan gak dateng ke semua orang. apalagi kesempatan itu gratis yess. hahahahaha..

Nah, pagi tadi di kelas kita belajar ‘express feeling’. disuruhlah itu kitamenceritakan 15 ‘feelings’ yang kita rasakan selama paling gak sebulan terakhir. tadinya saya mau curhat onair kan yah. tapi harus jaim dong kalau sama temen – temen kantor, saya harus dikenal sebagai mbak ais yang cuek dan cool (aeeh matek).

jadi saya cuman menceritakan feeling yang so so aja, salah satunya adalah enthusiastic. why? because we have one day off in da middle of this week. ya ampoon…. sejak kerja, i’m very craving for day off. jadi dapet satu tambahan libur tanpa mengurangi cuti itu amazing banget rasanya buat saya. hahahahaha.

bukannya saya membenci pekerjaan saya, hanya saja … saya seneng aja dapat waktu buat tidur lebih lama. hehehehehehe…

eh topik yang mau dibahas bukan itu sih. topik yang mau dibahas itu sebenernya gara – gara tiba – tiba saya keingetan sama logo ini:

friendsterhahahahahaaa ….

ayoh generasi internet 2000-an. ada yang masih inget sama logo ini gak? sama testimonial? sama bullbo alias bulletin board? sama kolom last seen, sama kolom who’s vied me. ahahahaha.

aduh, saya kok jadi terharu yah. ketahuilah temans, jaman friendster itu adalah jaman yang tidak cukup mengenakan untuk stalking, secara dulu social network belum ada kaya sekarang yess. jadi kalau mau nyari tahu tentang seseorang yah cari tahu aja lewat testi. ada masanya loh kita teriak – teriak; “eh … isi testi gue dong”

ya gak sih?

isi testi menjadi seru karena disitu akan ada testimonial temen – temen tentang kita. kind of “ais itu … bla bla bla and bla..”

sayang banget saya gak sempet nyimpen screen shot dari halaman friendster saya, karena sejak 31 mei 2011 friendster udah berubah jadi social entertainment site, yang saya gak tahu deh sekarang kabarnya gimana.

buat yang belum tahu, friendster itu ada sebelum adanya Facebook, twitter, myspace, yah masih agak deketan generasinya sama mIRC (remember that? someday yah… saya nulis tentang miRC).

penampilan friendster nih semacam kaya gini:

friendster page on 2006

yang seru dari friendster bagi saya adalah, kolom testimonial. why? karena, kalau lagi BT dan lagi gloomy gak jelas, saya biasanya baca kolom testimonial buat naikin mood dan self esteem. seneng rasanya baca komentar orang lain tentang diri kita sendiri (ya ampun, mbak ais narsisnya jaman dulu. heheheheehe). tapi, kalau kita mau kenal sama seseorang jaman dulu nih ya… saya juga ‘cari tahu’ gebetan saya yah lewat friendster. bagaimana teman- temannya memandang dia, bagaimana teman – temannya menilai dia. kalau sekarang apa yah perbandingannya?

nah selain itu .. di friendster ada juga fasilitas bulletin board. itu semacam kaya notes  yang bisa kita tulis dan bisa dibaca sama semua orang. cmiiw yah .. dan kita juga bisa baca bullbo (singkatan bulletin board pada masanya) yang dipost sama temen – temen friendster kita. biasanya di sini saya nulis gak penting banget .. biasanya jawab 20 pertanyaan gak penting yang pernah dipost sebelumnya sama temen saya. semacam situs springme kali yah kalau jaman sekarangg. kadang pertanyyan – pertanyyannya pun gak jelas, kaya “lagi dengerin musik apa?” atau “tadi sebelum nulis bullbo ini habis buka situs apaan?” atau “online dari mana?” alay kan saya jaman dulu ikut-ikutan nulis begituan?

selain itu, friendster dulu punya blog loh. dan di sanalah blog seorang mbak ais dimulai. dan amat sangat alay sekali. kalau untuk ini ada sih screen shotnya di blog salah seorang temans. tapi gak mau saya kasih link ah. ntar jadi ajang si dikung sama oom han buat ngebully saya :,(

secara tata bahasa, gaya nulis, pemilihan huruf, pemilihan kata, yang kalau saya baca lagi sekarang bikin saya pengen nanya “itu siapa yang nulis?”

ya padahal ada nama saya-nya di situ.

kalau saya gak salah inget, jejak kehadiran friendster masih saya tempel di salah satu buku harian saya. yaitu berupa print – printan testi – testi terbaik dari teman – teman friendster saya. saya pajang disitu buat jadi mood booster saya kalau lagi gloomy gak jelas. hihihihi.

dan, sama seperti situs pertemanan lainnya, friendster juga punya fasilitas buat nyimpen foto.

seru deh jadinya nostalgia dengan friendster ini, walaupun sejak mei 2011 itu… semua foto, testi, bulbo dan data – data yang ada di friendster udah dihapus. jadi, hilang sudah jejak kealay-an saya.

ALhamdulillah, besok suami dan anak – anak saya gak perlu tahu kalau saya pernah alay dan ajaib.

***

so, gimana dengan teman – teman … punya akun friendster gak dulu?

***

and by the way, thank for Gadel for the screen shoot of friendster on 2006 :)

sepak bola, puasa, pilpres dan microwave

Selamat Hari Jumaaat..

di jumat yang indah dan cerah serta panas ini, saya lagi selo banget. Oom bos lagi pergi rapat di luar, kerjaan juga untuk hari ini belum ada yang urgent. ada sih, tapi masih bisa besok lah. hahahahaha…

ini gara – gara mbak ina nulis soal piala dunia, pas saya buka reader saya. yah ada beberapa topik yang menarik sih. tapi sebagian besar terbagi dalam tiga topik; kalau gak nulis soal politik, nulis soal piala dunia atau gak nulis soal bulan puasa.

dan saya masih aja nulis soal cinta cintaan. galau galauan.

hahahahaha.

tapi yang paling seru emang blognya mbak ina ini nih, saya ampek baca berulang kali. pelipur lara dan tambahan informasi bagi fans bola musiman kaya saya. iya, saya kan nonton bola kalau ada musimnya aja. kaya sekarang lagi musim piala dunia, saya ikutan hore.

ikutan hore juga waktu Italy menang lawan Inggris (PUS!) dan ikutan nangis waktu Italy harus balik kandang. lagi – lagi gagal lolos ke 16 besar. uda dua kali piala dunia gak lolos, semoga 2018 your turn yes Azzuri :)

dan ikutan dadah – dadah waktu Spain si mantan juara dunia harus pulang duluan.

Jagoan saya jelas Italy lah.. dengan atau tanpa Totti bagi saya Italy itu favorit. gak tahu juga kenapa, padahal saya gak paham bola, mungkin karena saya suka makan Pizza kali yah :mrgreen:

tapi berhubung Italy udah balik, saya dari awal punya dua jagoan. Argentina lah jagoan kedua saya. kenapa? Yah karena dia negara Amerika Latin. Berhubung dilaksanakan di Amerika Latin, saya yakin yang juara pasti Amerika latin. Kenapa Argentina? Ya karena Brazil udah banyak yang mjagoin..  iya. saya sok tahu. dibantah juga boleh loh bagi penggemar negara eropah.

apakah saya menonton semua pertandingan itu? jawabannya tidak. tidak pernah. hahahahaha… saya tahu semua itu lewat temlen di twitter, dan atau malah baca – baca berita atau kek baca blognya Mbak ina itu.

kenapa gak nonton Is? Satu, jadwalnya gak nyambung nih. antara sahur dan besoknya kudu bangun pagi. Kedua, karena gak ada partnernya.

piala dunia 2010 kan ada tuh bekas sahabat saya yang nemenin saya nonton sambil smsan sama gebetan masing masing eh ga taunya gebetan saya di… eh gak jadi, bulan puasa cyiin…

atau ga si adek ganteng kesayangan saya, kita nongkrong jerit – jerit di kontrakan. Sekarang? Ada sih yang nemenin, tapi masih nemenin lewat bbm doang. Lagian nonton bola sambil bbman apa aseknyaa..

Alasan ketiga, gak ada sih. cuman dua alasan itu aja; teman dan waktu.

intinya, saya belum nonton satu pertandinganpun deh.  rencananya nanti malem saya mau tuh nonton jerman prancis. pegang mana Is? ndak tahu saya. kalau mbak ina megang jerman nih, aku megang Prancis deh. soalnya ada Zidane *hlah. salah zaman :))))

****

next topic; politik. saya cuman nunggu sampe minggu tenang datang dan masa kampanye berakhir. ini pemilu ketiga saya (APPPPAA?? OW EM JI, saya ketauan gak imut – imut lagi deh. hahahahaha). dan sepanjang ingatan saya, kali ini adalah pemilu dengan kampanye terburuk sepanjang tiga kali pemilu. lupakan arak – arakan yang menakutkan, kampanye ini lebih sadis lagi. hampir dipastikan di berbagai macam social media (maaf, udah lama saya gak nonton tivi) tiap hari pasti ada aja yang posting tentang politik. badly, yang diposting gak jarang yang negatif.

saya ngerasa gak punya kapasitas buat ikutan kampanye. bukan karena gak dibayar *EH! bukan karena itu. bukan karena filsafat politik saya dapet nilai D (walau udah tiga kali ngulang yess),

tapi karena saya masih merasa pemilu itu ada azasnya, yakni LUBER, langsung umum dan bebas RAHASIA. jadi, sebagai pemilih saya akan tetap menjadi pemilih yang merahasiakan pilihan saya.

dan, seperti yang pernah saya singgung entah di mana saya lupa. jika saya berkomentar mengenai politik maka saya tidak bisa membawa diri saya pribadi saja. tapi pasti akan membawa nama institusi tempat saya bekerja, kampus tempat saya belajar dan juga orangtua saya.

nah, bagi saya yang terakhir itu yang paling berat saya juga untuk saat ini.

tapi itu sebenernya berlaku bukan cuman kalok komentar politik sih, berlaku juga untuk komentar yang laennya. ya kan?

So, untuk soal politik saya komen hore aja yes :)

****

Puasa. Selamat menunaikan ibadah puasa yah buat teman – teman semua. saya udah harus siap – siap pulang nih, jadi postingan soal microwave kapan – kapan aja ya saya lanjutinnya. hehehehehe…

***

so, apa tim favorit kamu?

***

enjoy :)

dalam tiap ragu

seperti akan menyerah pada tiap kesalahan, aku pun menyerah di terakhir kali orang itu meninggalkanku. meninggalkanku dalam pertanyaan besar yang sampai sekarang belum kutemukan jawabannya. masih kucari, atau mungkin aku sudah tidak peduli pada jejak langkahnya yang terhapus perlahan oleh hangat kehadirannya. kehadiran ia, yang mampu membuat hatiiku ciut pada ikrar tidak akan bodoh lagi. tidak akan jatuh cinta lagi.

ah bodoh memang ikrar itu. harusnya sudah kuterima saja takdir bahwa aku ini sang wanita yang pada akhirnya akan menambatkan hati pada seseorang. dan, mungkin seseorang itu … dia.

aku terpaku pada senyumnya. bukan yang terindah, bukan yang terbaik, tapi … paling mampu membuat keangkuhanku tunduk. dan mungkin yang paling berani. paling berani untuk meruntuhkan tiap ego dan logika yang kubangun sejak terakhir hatiku hancur.

dan, kali ini saat langkahnya terhenti dalam keraguan yang sama seperti pendahulunya, aku hanya berkata;

‘aku bisa apa?’

aku. bisa. apa. saat. kamu. ragu. melangkah. untuk. membimbingku.

aku hanya bisa berdoa, semoga Allah mengabulkan permintaanku saat ini untuk bersama dia. entah sudah berapa dia yang kusebut dalam doa. mohon dengan sangat, semoga ini yang terakhir.

dan, yang mampu kuberikan sekarang adalah waktu. waktu baginya untuk berpikir mengenai segala macam keraguan dalam dirinya.

waktu dan keraguan adalah musuh besarku dulu. entah saat ini.

dayaku saat ini hanya meminta kepadaNya.

seberapa keras aku bernyanyi i wont give up nya Jason Mraz, aku bisa apa?

dan sebelum ini semua terlanjur, mari kita beri koma pada kalimat kita.

(jeda)

***

dalam tiap ragu, selalu ada harapan.

namun kali ini, harapanku adalah … don’t give up on us. because .. there’s something about you that just wont let me give up like yesterday.

 

i won't give up

***

note:

1. udah lama gak curhat di sini yess? anggep aja angin segar buat yang kepo sama urusan percintaan saya (eerr… emang ada?)

2. terinspirasi lagunya jason mraz yang i wont give up

3. gambarnya ngambil dari sini.

 

reblog : i don’t know how she does it

heiho… welcome June :) selamat bulan Juni. Half year is already gone, isn’t it? Gak nyangka banget yah.. udah beredar ajaloh tanggalan hari libur dan cuti bersama tahun 2015 di group wasap saya. malem ini saya pengen reblog salah satu tulisan saya tahun 2011, jaman saya lagi mau nyusun tesis (it’s been 3 years! wew!)… tapi saya edit dikit yah, gak semuanya saya masukin yah. soalnya ada banyak kepentingan politik di dalam situ *tsah.

postingan ini nulis tentang resensi buku yang saya baca judul bukunya i don’t know how she does it by Allison Pearson. so, here is it…

bercerita tentang Kate Reddy, seorang manajer investasi yang memiliki keluarga dengan dua orang anak. secara garis besar, buku ini menceritakan work-family conflict yang dialami oleh seorang Ibu yang bekerja. Kate memiliki dua peran yang harus dijalaninya, peran di kantor sebagai satu dari sedikit wanita yang bekerja di kantornya dan juga perannya di rumahtangga.

Kate memiliki seorang suami dan dua orang anak; Emily yang berusia lima tahun dan Ben yang masih berumur satu tahun. Kate mencintai pekerjaannya, namun dia juga berusaha yang terbaik bagi keluarga yang [sudah pasti] dicintainya.

Dalam buku ini digambarkan bagaimana Kate berusaha menyeimbangkan kedua perannya. menjadi Ibu yang bekerja akan jauh lebih sulit dibandingkan menjadi Ayah yang bekerja, dan satu part yang paling menggambarkan bagian ini adalah saat Kate bercerita bagaimana seorang pria akan terlihat keren, terlihat sangat mencintai keluarga saat memajang foto anak, istri dan keluarga-lah secara garis besar. Tapi menurut Kate, semakin tinggi jabatan seorang wanita bekerja, maka semakin sedikit foto yang dipajang.

Sama halnya seperti saat rapat mahapenting terjadi di suatu divisi dan seorang Pria meminta ijin untuk tidak ikut meeting, dengan alasan; “mengambil raport anak” maka akan mendapat respon;‘aaah soooo sweeet’. tapi jika wanita yang melakukannya, maka biasanya yang ia dapatkan adalah celaan betapa ia tidak bisa mengatur waktu.

The women in the offices of EMF [Kate’s firm] don’t tend to display pictures of their kids. The higher they go up the ladder, the fewer the photographs. If a man has pictures of kids on his desk, it enhances his humanity; if a woman has them it decreases hers. Why? Because he’s not supposed to be home with the children; she is.

well, buku ini memuat jungkir baliknya seorang Kate berusaha menjadi ibu dan karyawan serta istri yang baik. bagaimana ia mengakali ‘kue supermarket’ menjadi seperti  kue homemade, bagaimana ia selalu berusaha ‘menyogok’ anaknya dengan berbagai mainan yang ia beli setelah bertugas ke luar negri, bagaimana ia berusaha menolak berhubungan seks dengan suaminya, bagaimana Kate mengupah pengasuh anak-anaknya dengan upah yang cukup tinggi agar memperlakukan anak-anaknya dengan baik, bagaimana akhirnya suaminya pergi dari rumah mereka saat Kate sedang bertugas di luar negri.

Saya belum mengalami posisi seperti Kate; seorang Ibu yang bekerja. Makanya saya terkejut menyadari betapa beratnya menjadi Ibu yang bekerja. No offense buat Ayah yang bekerja, suwer. Coba kalau kawan-kawan lagi nganggur dan mencari jurnal penelitian mengenai ‘working mother’ maka kawan-kawan akan menemukan sejumlah penelitian.

Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan  oleh Cinamon dan Rich (2002), yang mengatakan bahwa sumber konflik pada ibu yang bekerja biasanya adalah karena adanya peran ganda, yaitu peran sebagai ibu rumah tangga (istri dan ibu dari anak-anaknya) dan juga peran sebagai pekerja. Setiap peran tentu saja menuntut konsekuensi dan tanggung jawab yang berbeda, yang terkadang saling bertentangan.

Mereka juga berkata wanita yang bekerja ternyata lebih sering mengalami konflik dan permasalahan keluarga dibanding pekerjaannya karena bagi kebanyakan wanita keluarga merupakan domain yang paling penting dalam kehidupannya. Permasalahan ini tidak sedikit mempengaruhi pekerjaan dan dapat menciptakan gangguan bagi mereka, sehingga menyebabkan penurunan kinerja.

Lagi, ngapain sih seorang wanita bekerja? Well, itu akan bergeser sedikit mengarah ke Tesis yang saya angkat. Terdapat beberapa dorongan kenapa wanita bekerja. Bisa karena faktor ekonomi, faktor relasional yang berkaitan dengan kebutuhan sosialisasi mereka, faktor aktualisasi diri juga menjadi salah satu faktor pendorong seorang wanita bekerja.

Faktor yang mendorong seorang wanita bekerja pada akhirnya berhubungan erat dengan bagaimana wanita memaknai pekerjaan mereka.

Pemaknaan wanita bekerja berbeda dengan pemaknaan bekerja pada pria, karena wanita pekerja memiliki konflik dan dorongan yang mungkin berbeda dengan pria dalam bekerja. Maka makna kerja bagi wanita pekerja dipengaruhi oleh alasan yang mendorong mereka untuk bekerja yang nantinya akan membawa kepada penetapan peran kerja, hasil yang diharapkan dari bekerja, serta batasan aktivitas pada wanita dalam bekerja.

Jadi, makna kerja bagi tiap Ibu yang bekerja akan kembali lagi pada tujuan dan nilai-nilai yang dianut oleh Ibu tersebut.

Hehhehehehehehe. saya mengacungkan jempol saya empat-empatnya untuk semua Ibu yang bekerja. Mereka hebat. Walaupun kalau boleh memilih pilihan saya di masa depan, saya ingin bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga full time. Andai saja, saya bisa  :D

pas baca tulisan ini sekarang, saya masih proses mencari… apa makna bekerja bagi saya? You know what…. saya gak paham. Saya gak paham apa makna saya bekerja saat ini (isn’t it ironic?) Hahahahaha… mungkin harus jadi bahan renungan tengah tahun ini yess.

semoga temans sehat dan bahagia menyambut bulan yang katanya romantis ini ya :)

keep the good works!

 

bukan sekedar maaf

Malam minggu sama pacar itu basi tauk! Malam minggu sambil ngeblog dong! Baru oke dan keren banget… (ini pembelaan diri bukan sih? Hahahahaha…)
Tapi … i feel too old to enjoy the ‘Saturday nite’ moment… u know (ini jelas pembelaan diri! Ahahahahaha…)

Anyway … mari kita membahas yang saya pilih jadi topik tulisan saya malam ini…
Apa tuh? Sebenernya ide postingan ini datang waktu kemarin saya sama wanita-wanita kepanduan (sebutan untuk cewek-cewek di satu divisi saya yang jumlahnya cuman sebelas. Eh sekarang jadinya cuman sepuluh ding) ngobrolin salah satu teman satu divisi kami. Ulangi, salah satu mantan teman satu divisi. Kok mantan? Iya, sebenarnya yang mantan bukan status temannya. Tapi status satu divisi.

Karena sekitar beberapa bulam yang lalu, divisi kami mengajukan surat pengembalian salah satu teman kami itu ke bagian SDM. Kenapa dikembalikan? Pertanyaan yang menarik…dan saya seneng banget kalau suruh ngejelasinnya. Tapi gak di sini juga yah, karena ini menyangkut nama baik seseorang dan saya bisa-bisa dicari sama orang SDM gara-gara nyebarin berita bener ini (HLOH?)

Anyway, intinya perilaku dia bikin orang satu divisi sakit ati deh, ga semua memang. Tapi yang jelas kami para wanita nya sudah sakit ati banget. Bukan hanya sebagai rekan kerja, tapi juga sebagai teman sepermainan (dulu saya sama dia kalau manggil satu sama laen aja udah pakek genk-genk an, macam teman satu genk aja). Intinya di mata kami dia salah banget. Terus saya bilang ke diri saya sendiri, “jikalau dia datang lagi apakah saya mau memaafkannya”

Entah kenapa, saat mengajukan pertanyaan itu bagi diri sendiri pun, saya ragu menjawabnya. Saya ragu apakah saya bisa langsung memaafkan begitu saja.
Kemudian saya mendengar cerita (lagi-lagi) dari teman satu kantor, bagaimana dia merasa sakit hati kepada kedua orangtuanya yang ia rasa sudah menghalangi kebahagiannya. Saya bertanya sama dia, “elo mau maafin orangtua lo kalau mereka minta maaf?”

Dia terdiam. Dan menjawab, “itu pun kalau mereka mau minta maaf Kak. Tapi tetep aja gue sakit hati”

Nah. Disitulah point yang kemudian saya tangkap: SEBENARNYA SAAT MEMAAFKAN ORANG, APA SIH YANG KITA BUTUHKAN? Kok rasa saya apapun yang orang itu lakukan pasti membuat kita tetap terluka ya.

Ibaratnya begini… seperti paku yang ditancapkan ke tembok, walaupun pakunya sudah dicabut namun bekasnya akan tetap ada, mau ditambal itu tembok, diplester lagi, pasti akan tetap ada bekasnya.

Menurut saya, begitulah manusia saat melakukan kesalahan ke orang lain.

Pada beberapa kasus, akan ada lukisan yang digantung untuk menutupi paku tersebut atau ada yang nekat menambal dengan menempelkan semen, atau parahnya… mungkin lubang pakunya sudah teramat banyak, akan merubuhkan tembok tersebut.

Lalu yang akan menghapus semua itu apa, siapa atau bagaimana?

Jawaban saya, saat saya mencari ke dalam diri saya sendiri… jawabannya adalah: waktu. Time will heal, honey. Atau dalam perumpamaan tembok, saya akan menganalogikannya dengan merubuhkan tembok tersebut untuk kemudian membangun tembok lagi dari awal.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah merasakan sakit yang teramat sangat. Iya ini kisah cinta. Sama si adeknya kakjul itu lah… (hahahahaha). Tapi, semakin ke sini saya semakin paham bahwa saya memang tidak berjodoh dengan dia, dan memang saya harus kehilangan dia. Karena kalau tidak, saya tidak akan ada di posisi sekarang. Mungkin saya masih luntang luntung di Jogja gak jelas ngerjain apa. Dia juga mungkin nasibnya sama. Tapi lihatlah kami sekarang, dia dengan keahliannya membuat kopi atau apapun itulah, saya dengan … dengan … dengan apapun inilah namanya pekerjaan saya, (hahahahaha) kami melangkah dan bahagia dengan jalan masing-masing. Mungkin saya gak akan sebahagia sekarang kalau kami masih bersama.

Apakah saya memaafkan dia? Ya, sudah lama saya memaafkan kesalahan dia yang menjalin kasih di belakang saya dengan sahabatnya. Apakah saya bahagia untuk kebahagiannya? Ya, saya bahagia. Saya senang melihat dia dan keluarga kecilnya. Apakah saya menginginkannya kembali? Tidak. Karena saya sadar kami tidak saling membutuhkan satu sama lain. Saya tidak membutuhkan dia, begitupun dia juga tidak membutuhkan saya. Ibarat saya kunci, dia bukan pintu yang tepat untuk anak kunci saya.

Saya memaafkan dia, tapi memang kami sudah tidak bisa bersama seperti dulu (book…istrinya mau tarok mana?). Dalam perumpamaan tembok tadi: tembok yang saya punya tentang dia sudah saya rubuhkan, puingnya pun sudah saya singkirkan entah ke mana.

Namun menerapkan itu saat ini ke teman sekantor saya yang berulah itu kok susah ya. Apakah saya memaafkan dia? Well … hmm… hmm.. memaafkan, andai diaaa…. (*berpikir). Apakah saya bahagia untuk kebahagian dia? TIDAK! Hell no! Dia harus merasakan akibat dari perbuatan dia dong! Apakah saya ingin dia kembali? TENTU TIDAAAAK! Apakah waktu akan memberikan kelapangan dalam hati saya untuk menerima dia sebagai teman kerja lagi seperti dulu? I just… don’t know :cry:  Rasanya tembok saya tentang dia sudah retak. Hahahaha.

Jadi sebenarnya dalam memberikan maaf kita itu butuh apa sih?

actually, this post special for everyone who turn and run away. it's never too late to say sorry, but things never gonna be the same, right?

actually, this post special for everyone who turn and run away. it’s never too late to say sorry, but things never gonna be the same, right?

 

SELAMAT MALAM MINGGU TEMANS!

kecup penuh cinta untuk teman di sebelah Anda :*

keep the good works!