dan (tak) mungkin

Hari ini untuk kesekian kalinya aku melihat profile Facebookmu dan melihat nama itu lagi di wall-mu. Ya Tuhan, kenapa hati ini masih terasa teriris ya melihat nama itu? Melihat bagaimana ia memanggilmu ‘Mas’ dan bagaimana kamu merespon itu dengan ‘dek’ serta bagaimana kawan – kawan mu ikut mengomentari tulisan wanita itu dengan gojekan – gojekan yang dulu biasa mereka tujukan kepadaku.

Lalu aku mengscrool ke bawah dan aku menemukan itu lagi; fotomu dan foto wanita itu. Tentu saja wanita itu yang mengupload foto itu, kamu masih seperti dulu; tidak pernah mengupload foto. Di foto itu kamu dan wanita itu tersenyum bahagia sembari memamerkan cincin. Cincin! Cincin yang pernah aku harap akan menjadi milikku.
Seolah itu belum cukup menyakiti hatiku, aku mengklik nama wanita itu. Sudah puluhan kali aku melihat profile wanita itu. Lihatlah bagaimana ia tersenyum, apakah kau melihat bayanganku di wajah wanita itu?

Ditya, sahabat baikku pernah berkata seperti ini kepadaku “Gila! itu cewek mirip banget sama kamu. Yah… gak mirip seratus persen mirip sih, tapi lihat senyumnya…”

Selebihnya aku menutup telinga. Aku tidak mau lagi mendengar cerita tentang dia. Tentang wanita itu. Tapi lihat aku sekarang: membuka profile dia di facebook. Aku membaca informasi itu berulang kali. Resa Putri Hermawan. Nama yang indah. Nama apa yang kau gunakan untuk memanggilnya? Putri? Resa? Eca? Ah iya, kamu memanggilnya ‘dek. Dek… terdengar hangat yah?

Aku kembali menggarami luka di hatiku sendiri dengan terus membaca profile wanita itu. Teman – temannya memanggilnya dengan panggilan Eca. Dan sepertinya ia wanita yang menyenangkan. Karena banyak sekali teman – temannya yang menulis di wall-nya hanya untuk menanyakan kabarnya yang sudah menghilang seminggu dari kantor. Tentu saja dia menghilang seminggu, dia kan pulang kampung untuk menerima lamaranmu.

Ya Tuhan. Lamaran. Harusnya aku yang ada di posisi dia. Dam*! Jutaan kali aku mencoba menghalangi diri sendiri untuk menyebutkan perasaan itu. Perasaan tersingkirkan dari kehidupanmu. Perasaan wanita itu merebut posisiku. Tapi memang itu semua yang aku rasakan.

Aku yang bersamamu selama enam tahun terakhir, aku yang bersamamu selama kamu merantau di kota orang. Aku yang setia menyambutmu datang saat kamu kembali ke kota ini. Aku yang selalu kamu hubungi di tiap malam kamu merasa kesepian di minggu – minggu pertamamu di perantauan. Aku yang selalu menyemangatimu di detik – detik jatuhmu menyusun skripsi.Aku adalah orang pertama yang kamu beritahu saat kamu harus pindah ke pulau seberang. Masih ingatkah itu semua?

Kita pernah bermimpi membangun sebuah keluarga kecil terdiri dari dua anak, persis seperti saran dari pemerintah. Kita pernah bermimpi menghiasi keluarga kita dengan musik indah dari alunan gitarmu dan permainan pianoku. Kita pernah bermimpi untuk mendidik anak – anak kita dengan model pendidikan homeschooling, karena itulah aku mengambil jurusan pendidikan. Kita pernah bermimpi memiliki rumah mungil dengan taman yang luas, agar anak – anak kita bisa bebas berlarian. Kita pernah bermimpi untuk menikah di usia 25 tahun, dan kamu berjanji melamarku di ulangtahunku yang ke-25 yang bertepatan dengan ulang tahun ibumu. Bahkan di umur kita yang waktu itu masih 17 tahun, kita pernah memiliki mimpi untuk membangun keluarga di atas perbedaan kita.

Dan mimpi itu masih tetap mimpi. Karena esok adalah ulangtahunku yang ke-25, aku sendiri di sini, menatap laptop. Melihat profile facebookmu dan tunanganmu. Tunanganmu. Tunanganmu. yang bukan aku.

it’s not goodbye that hurts, but the flashback that follow

Dan tak mungkin bila kita bersama di atas perbedaan… yang selamanya mengingkari
(Dygta – Tak mungkin melepasmu)

***

di sela pekerjaan saya sebagai jobseeker, sempat terpikir untuk menjadi penulis. dan in isalah satu fiksi saya yang saya tulis di sela-sela berburu pekerjaan *tsaaah.
hope you enjoy this. psstt… ini terinspirasi (TERINSPIRASI loh yah) dari kisah nyata seseorang…

see you next post

***
PS: gambarnya nyolong dari sini.

About these ads

20 thoughts on “dan (tak) mungkin

  1. keren kok,t adi malah ku kira ceritamu is
    kisah nyatamu. ywd jadi penulis aja.
    napa sih repot2 cari kerjaan.
    ampon dah, ciptain peluang kerja dong *biar tambah jengkel dah hahaha*

    • butuh keberanian mbak untuk itu. dan untuk sekarang ini, itu yang belon aku punyai.
      mungkin setahun dua tahun lagi, aku bakal menciptakan lapangan pekerjaan.
      someday i will mbaaaak mengikuti jejak Mbak Nik. tapi first step kali ini aku mau mencoba menjadi karyawan, biar tahu rasanya dulu *aiiiiihhhh gaya kali akoh!!!

  2. hmmm….rasa dicampakkan pasti ada,tapi tunggu saja di ujung sana jodohmu sudah menanti…
    aku kenal seseorang yang punya kisah seperti ini, akhirnya toh dia dapat orang yang lebih baik dan bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s