berbicara mengenai kejujuran

baiklah, sebelum blog ini ‘dituduh’ jadi blog yang dianggurin, maka di hari rabu selo ini (emang kapan kamu gak selo Is?) saya akan mencoba menjabarkan apa yang ada di kepala saya.

beberapa hari belakangan ini, saya sedikit terganggu dengan pemikiran-pemikiran yang loncat dari kepala saya. tentang satu hal: jujur.

bukan jujur kacang ijo, atau jujur ayam. tapi ini jujur yang saya ambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Online  (yang versi cetak kagak punya soalnya…. hehehehe) sebagai:

[a] (1) lurus hati; tidak berbohong (msl dng berkata apa adanya); (2) tidak curang (msl dl permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah orang-orang yg — dan disegani; (3) tulus; ikhlas

kenapa jujur itu bukan diartikan sebagai apa adanya yah?
baiklah, baiklah.. abaikan saja pernyataan saya itu. saya akan mencoba menjelaskan kenapa kata itu berlompatan dari pemikiran saya beberapa hari belakangan ini. ini erat kaitannya dengan pemikiran lainnya.
apa itu?
pemikiran dengan siapa saya bisa menjadi diri saya sendiri. dulu saya berpendapat seperti ini: dengan teman terbaik lah saya bisa menjadi diri saya sendiri. nyatanya, semakin ke sini, semakin bertambah umur, semakin sedikit teman, maka semakin sedikit juga dengan siapa saya bisa menjadi diri saya sendiri.
Lalu tiba – tiba muncul pemikiran seperti ini: memang diri kamu sendiri itu seperti apa?
bossy. ceriwis. tukang komplen. ga mau kalah. suka plinplan. gak suka sama orang lelet. gak suka sama orang plinplan (hah! eat thaaat!!!). senang bersosialisasi. senang bercerita. cinta damai. ga suka cari masalah.
ah.. kalau dilanjutin pasti makin kontradiktiflah diri saya ini. gak suka cari masalah, tapi gak mau kalah. gak suka orang plinplan, tapi diri sendiri plinplan. saya sebagaimana manusia lainnya menyadari bahwa kata sempurna jauhlah dari penggambaran diri. nah, di tengah ketidaksempurnaan ini, saya masih mencari seberapa banyak sih orang yang bisa menerima sifat dan sikap saya ini?
siapa kawan terdekat saya saat ini? bahkan blog ini pun sudah tidak lagi menjadi kawan terbaik seperti waktu pertama kali dibangun. terlalu …. terlalu apa yah… terlalu malas akhirnya saya membagi semuanya di sini.
si partner in crime apa kabar Is? Persahabatan kami di bangun di awal bukan dengan tipe ‘menceritakan segala sesuatu setiap saat’. persahabatan kami dibangun di atas simbiosis mutualisme yang kental. kami saling membutuhkan di awalnya. saya butuh kawan untuk mendengarkan cerita saya yang banyak, dia butuh kawan untuk nganter ke kampus. saya butuh kawan untuk memberitahu bahwa yang saya lakukan tidak salah, dia butuh kawan untuk mendengarkan otak kriminalnya (hahahahaha!). ya… kami sama-sama menyadari bahwa yang kami sama-sama membutuhkan. hingga saat ini, saat dia sudah tidak tinggal di Jogja dan dengan segala macam kesibukannya (cie… sibuk..), kami jadi jarang berkomunikasi. sehingga dia tidak mengetahui gelisah apa yang bergelayut di otak saya yang sering dibilang lemot ini sama dia.
sama ranger hitam yang digadang-gadang jadi partner saya di kampus? ah.. hubungan kami hanya sebatas sks *hlah?!?! hahahahaha. adalah beberapa sisi yang diketahui olehnya, namun saat ingin bercerita lebih banyak, saya takut mendapat pandangan celaan dari dia. saya merasa kok dia bukan tipe orang yang akan senyum – senyum yah kalau mendengar hal – hal yang berkeliaran di kepala saya? yang ada dia malah bilang; ‘apaan sih mbek??’
sama si captain? well… hubungan kami sudah berakhir setengah tahun yang lalu, walau masih berkomunikasi dengan baik, tapi tetap saja saya tidak bisa membagi diri saya sepenuhnya ke dia.
sama beruang kutub tetangga saya? walau kemarin dia saya curhati habis-habisan soal kegelisahan saya dua minggu terakhir, dan cuman dia yang menyadari kalau saya gelisah, tapi tetap saja dia bukan orang yang saya jadikan ‘tempat menjadi diri sendiri, apa adanya’.
sama mamah dan bapak? hahahahahaha… bisa abang ijo muka mereka kalau mendengar isi kepala saya (iyah, ada beberapa part tentang mereka).
sama si oom udin yang pernah saya gilai tulisannya? ya… walaupun kemaren juga habis curhat sama dia, tapi saya belum bisa saja menjadi apa adanya di depan dia. walaupun saya tahu, dia paling cuman bilang dodol atau apalah atas semua perkataan saya yang ga penting.
sama kawan saya yang seniman handal itu? err…  banyak hal yang tertinggal di antara kami yang harus diceritakan. dan butuh lebih dari sekedar hai untuk mengatasinya.
atau sama mamahnya Ardian? si sahabat sebangku saya sewaktu SMA? status kami berdua banyak banget bedanya. dia sudah menikah dengan satu anak berumur enam tahun, saya masih single belum menikah walau jatuh cinta sama anak kecil. dia PNS yang sudah bisa menyicil rumah, saya masih pengangguran yang luntang – luntung ditraktir melulu kalo ketemuan. dia sudah membangun hubungan yang manis dengan teman SMA kami lebih dari tujuh delapan tahun, saya masih mencari pangeran (atau kodok?) saya.
perbedaan – perbedaan itu memang tidak terlalu terasa saat kami mengobrol hahahahihihi selama enam jam atau bahkan tiga hari. tapi harus diakui bahwa pola pikir kami berbeda. apalagi selama bertahun tahun kami tidak berkomunikasi.
Lalu dengan siapa sebenarnya saya bisa jadi diri sendiri???? bisa menceritakan semua pemikiran saya, bisa bersikap apa adanya, bisa tanpa beban bersikap tanpa takut orang berpikiran macam – macam.
mungkin. mungkin tidak akan pernah ada. karena dalamnya laut bisa dikira, dalamnya hati siapa yang tahu? saya tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran teman – teman saya setelah nama mereka saya tulis di sini. eh tapi emang mereka tahu kalo itu mereka?
hahahahha.. ini lagi nulis apa sih? kagak jelas amet yak…. tadinya ngomongin jujur, ujung2nya ngomongin temen, ujung2nya gak tahu dah apaan!
eh btw, actually sekarang saya gak pengangguran lagi loh. nih jadwal saya:
06.30 : nganter sasa dan yaya, ke jalan jensud dan yang stunya ke deket lapangan porka
10.30 : njemput nisa di bancarkembar
14.30 : njemput yaya dan nisa, satu di  Jatiwinangun dan satu di deket lapangan Porka.

late lunch with avis and Yaya

jadi saya gak pengangguran – pengangguran bangetlah yah :mrgreen:

***

so, the point is: sama siapa sih sebenarnya kamu bisa menjadi diri sendiri? atau malah gak tahu seperti apa diri kamu sendiri itu?

10 thoughts on “berbicara mengenai kejujuran

  1. ngakak baca aktifitas ‘non pengangguranmu’ Is….hahahahaha

    but saya juga sampe sekarang ssulit jadi diri sendiri, meski sama pacar dan sahabat sekalipun Is, gimana caranya ya?
    hehehe

  2. gue pernah baca penelitian (lupa dimana n kapan) kalo manusia itu hanya menunjukkan dua pertiga jati dirinya dihadapan orang lain.

    ga salah jg menurut gue, karena pada dasarnya ‘everybody have a secret’. dan sering kali terjadi ‘kompromi’ di dalam segala sesuatu.

    *komen uopo iki*

  3. kalau aku jawabnya: ga ada… bukan ga ada sih sebenarnya.. ga tahu..
    karena makin tua dan makin dewasa (emang iya?), makin ngerti juga karakter orang lain. jadinya ya menyesuaikan diri kan, salah satu bentuk kompromi sebagai makhluk sosial..
    tapi bukan berarti ga enjoy juga.. cuma ya kalau sama si A saya begini, sama si B saya begitu, ga ada yang sama persis lah..

    err.. mungkin sih yang paling mendekati karakter murni saya,, beberapa menit sebelum tidur..

  4. suka sama postingan ini ,,
    “Kapan ya kita menjadi diri kita sendiri ”
    dulu aku tahu kapan kita bisa menjadi diri sendiri, saat bersama teman yang sama sama bandel,, tapi ternyata sama seperti yang kamu bilang,, selalu ada hal yang tidak dapat kita sampaikan, sama seperti yang si aki bilang “everybody have a secret”

    semakin kita tua, semakin kita dewasa, selain bingung tentang kapan kita dapat menjadi diri sendiri,, ngerasa gak sih rasa percaya kita pada sesama itu juga semakin berkurang
    sepertinya ini sindrome umur 25 (*lupa namanya apa.

  5. kalo menurutku tidak menunjukkan 100% siapa dirinya bukan berarti dia tidak menjadi diri sendiri, setiap orang pastilah memiliki alasan sendiri2 untuk bagaimana bersikap di depan orang2 yang berbeda, berhubungan dengan rasa nyaman juga kalo harus cerita misalnya. dan lagi semua orang berbeda dan memiliki rahasia sendiri-sendiri yg bahkan mungkin hanya dia dan Tuhan yang tahu. terkadang tidak semua hal harus dibagi :-)

  6. aku mikirnya gini is.. manusia itu pada dasarnya gak mau menyimpan diri pada satu wadah.. maka.. jika wadah yg satuh jatuh pecah kita masih ada wadah lainnya.. seperti istilah dombledore gt deh.. hehehehe..

    ya bukan berarti gak jd diri sendiri seh..cuma kita gak akan pernah 100% didepan orang lain.. (kecuali kata mbak niq yg didepan suamj itu yak, cozkan blm punya suami juga kitanya :p)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s