Daftar Pemilih Tetap

Ceritanya begini, beberapa hari yang lalu, ade’ saya siang2 heboh teriak2 dari luar kamar saya… ”mba ais.. mba ais.. mannna.. nama gue gak ada di daftar!”

Awalnya saya bingung dia ngomongin apaan, pas udah ngeliat muka dia, saya baru paham apa yang dimaksud. Oh.. daftar ituuu tooh. Daftar Pemilih Tetap alias DPT yang ditempel di tembok samping rumah kontrakan kami.

ini loh daftar yang bikin ade' syaa hebooh..

ini loh daftar yang bikin ade' syaa hebooh..

Saya sebel. Jelas-jelas hari kemarennya saya baru lihat kalau nama kita berdua ada di daftar itu. Saya ngikutin ade’ saya itu ke samping rumah. Dan… dengan ngotot saya tunjukin nama kita berdua. Ade’ saya Cuma cengar-cengir…”dasar aneh. Yang dipajang itu nama lengkap, bukan nama panggilan. Ampe tua nyari nama panggilan elo disitu juga tetep gak ada”

Entah euforia atau apa namanya, saya sama ade’ saya semangat banget ikut PiLpres. Ampe’ bela2in gak pulang ke rumah ortu, gara2 nama kita udah terdaftar di RT tempat kami tinggal sekarang, dan kita bersikeras buat ikut milih di TPS deket kontrakan kita. Kalau buat ade’ saya jelaslah sudah. Ini pemilu perdana dia. Buat saya, ini pemilu perdana juga. Perdana di kota ini (hahahahahaha…).

”Ngapain sih ikutan pemilu, toh kita milih apapun gak berpengaruh buat kita. Gak akan membawa perubahan apa-apa”, banyak temen2 seumuran saya ngomong gitu. Saya sih belum menentukkan sikap. Tapi yang pasti, saya gak mau golput. Dan saya gak setuju sama pendapat itu. Saya bukan mau sok nasionalis atau apa, pas kuliah dulu saya bukan aktivis kok. Wong temen2 pada demo saya asyik2an makan siang di hotel sama bapak saya (ajakan demo itu datang di usia saya yang baru seminggu jadi mahasiswa, dan saya gak paham sama apa yang di demo-kan, jadi saya memilih gak ikut daripada apa yang didemokan saya gak paham…kan gak lucu kalu ada orang tanya, ”ini demo apa sih?” saya jawab sambil geleng2 kepala. Saya seneng eksis, tapi kalau eksis model begitu rada2 males juga yah.)

Saya gak paham politik. Nilai filsafat politik saya adalah satu2nya nilai D di transkip saya, dan gak saya ubah (baca : ga niat ngulang buat ngambil mata kuliah itu lagi) sampai akhirnya saya lulus. Yang saya pahami sebagai politik adalah cara seseorang atau kelompok atau golongan untuk mencapai apa yang mereka mau. Itu pemahaman kecil saya. Bener atau gak, saya gak mencari tahu. Hihihihihi…

Back to DPT lagih. Ya itu, saya sama ade saya heboh dan semangat mau ikut pilpres. Kaya mau ikut lebaran, tanggal 8 itu ditulis di kalender di kamar kami masing2 dengan tulisan ”PEMILU”. Heboh yah? Entah kami naif atau bodoh atau justru cerdas, yang kami tahu hanya kami menjalankan apa yang sudah menjadi hak kami. Kaya kuliah aja, kita udah bayar mahal2 buat kuliah, kalau kita gak kuliah kan yang rugi kita. Karena kuliah itu buat kita, bukan buat dosen, kampus atau siapa pun. Itu buat kita. Itu pikiran simpel saya (dan mungkin ade’ saya); pemilu dibikin buat kita, dan niat kami baik kok. Satu suara mungkin tidak membawa pengaruh besar, tapi kalau tiap 100 orang berpikir seperti itu, bakal ada 100 suara terbuang percuma dong? Dan, saya lebih memilih untuk tidak menjadi 100 orang itu, karena sesuatu yang mubazir katanya gak baik (sok tauuuu…)

*PS: jangan tanya soal apa yang bakal kami pilih yah, yang jelas kami udah punya pilihan, yang gak dipengaruhi apapun, selain hati nurani. Saddddaaap.. oke kan jawaban saya? Hahahahahaha..*

:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s